PORT MORESBY — Papua Nugini memberlakukan larangan impor ayam terhadap produk unggas Australia setelah dua burung liar di Australia Barat dipastikan membawa virus flu burung H5N1. Kebijakan itu membuat aliran dagang ayam, telur, dan produk telur dari Australia ke pasar terbesar mereka di luar negeri ikut tersendat.
Larangan impor ayam berlaku untuk telur dan produk olahan
Badan Otoritas Pertanian dan Karantina Nasional Papua Nugini pada Senin menyatakan mereka menghentikan pembelian produk ayam asal Australia. Larangan impor ayam itu tidak hanya menyasar daging unggas, tetapi juga telur dan produk telur.
Keputusan ini muncul hanya beberapa hari setelah Australian Centre for Disease Preparedness mengonfirmasi temuan H5N1 pada burung liar di Australia. Pemerintah Australia, lewat Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, menegaskan belum ada bukti virus itu menyebar atau menetap di Australia.
“Kami terus memantau dengan saksama deteksi H5 bird flu pada satwa liar dan aktif bekerja untuk memberikan jaminan yang diperlukan kepada para mitra dagang,” kata Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia Julie Collins.
Kementerian itu juga menyebut Australia tetap bebas dari HPAI pada unggas sesuai standar internasional Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan. Artinya, temuan pada burung liar belum otomatis mengubah status keamanan produksi unggas nasional Australia.
Kenapa Papua Nugini bereaksi cepat
Papua Nugini adalah pembeli ayam terbesar Australia di luar negeri. Negara itu menyerap sekitar separuh dari total ekspor ayam Australia. Jadi, setiap gangguan di sisi kesehatan hewan langsung berimbas ke perdagangan.
Data pemerintah Australia menunjukkan produksi daging ayam pada 2024–25 mencapai 1,4 juta ton. Sebagian besar memang dikonsumsi di dalam negeri. Tapi ekspor tetap bernilai besar, terutama ke kawasan Pasifik dan Asia Tenggara.
Ekspor daging ayam Australia pada 2023–24 bahkan menyentuh rekor 133 juta dolar Australia. Sementara itu, ekspor telur dan produk telur mencapai 15,76 juta dolar Australia pada tahun anggaran 2022–23.
Dalam konteks seperti ini, satu temuan di alam liar saja cukup untuk memicu langkah hati-hati dari negara tujuan. Bagi pembeli besar seperti Papua Nugini, reputasi kesehatan unggas sama pentingnya dengan kelancaran pasokan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.