Sabtu, 27 Juni 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Resmi Indonesia Setop Impor Solar Juli 2026: Bahlil Umumkan Kemandirian Energi

Resmi Indonesia Setop Impor Solar Juli 2026
Indonesia akan menghentikan impor solar mulai Juli 2026. Foto: JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Indonesia akan menghentikan impor solar mulai Juli 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengumumkan kebijakan itu sebagai langkah konkret menuju kemandirian energi nasional, setelah bertahun-tahun devisa negara terkuras untuk membeli solar dari luar negeri.

Dampaknya langsung menyentuh APBN. Impor solar selama ini menghabiskan devisa dalam jumlah besar setiap tahun belum termasuk beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah. Dengan menghentikan impor, pemerintah berharap tekanan fiskal itu bisa dipangkas signifikan.

Dua Pilar Utama Kebijakan

Pemerintah tidak asal berani. Ada dua strategi besar yang disiapkan untuk menambal kebutuhan solar domestik setelah impor dihentikan.

Pertama, peningkatan kapasitas kilang minyak dalam negeri lewat proyek Refinery Development Master Plan atau RDMP. Kilang Balikpapan ditarget menambah kapasitas sekitar 100 ribu barel per hari dan diproyeksikan beroperasi penuh pada 2025–2026. Kilang Cilacap dan Dumai juga menjalani revamp untuk mendongkrak produksi solar. Satu lagi, Kilang Baru Tuban berkapasitas 300 ribu barel per hari meski masih dalam tahap konstruksi.

Kedua, biodiesel B35. Campuran 35 persen Fatty Acid Methyl Ester berbasis minyak sawit ini sudah berjalan dan pemerintah berencana menaikkannya ke B40 hingga B50 secara bertahap. Kebijakan ini sekaligus memberi angin segar bagi petani sawit karena serapan CPO domestik bakal meningkat.

Dampak ke Masyarakat dan Industri

Bagi pengguna solar di SPBU seperti sopir truk, nelayan, dan petani kebijakan ini idealnya membuat pasokan lebih aman karena tidak lagi bergantung pada fluktuasi kurs dolar. Tapi ada tapinya.

Harga biodiesel B35 tidak mengacu pada harga minyak dunia atau MOPS seperti solar konvensional, melainkan pada harga CPO global. Artinya, kalau harga sawit dunia melonjak, komponen biaya solar pun ikut bergerak. Pemerintah perlu menjaga keseimbangan itu agar harga BBM di masyarakat tetap terkendali.

Sektor Dampak Positif Potensi Tantangan
APBN Hemat devisa, beban subsidi berkurang Harga CPO naik ikut dongkrak biaya biodiesel
Petani Sawit Serapan CPO naik, harga TBS lebih stabil Masih rentan terhadap harga CPO global
Transportasi Stok solar lebih aman, tidak tergantung impor Risiko langka bila kilang terganggu
Harga BBM Lebih stabil, tidak tergerus kurs dolar Patokan harga bergeser ke harga CPO

Kilang Jadi Penentu

Seluruh skenario ini bertumpu pada satu hal yaitu kilang harus berjalan sesuai jadwal. RDMP Balikpapan adalah yang paling krusial karena dijadwalkan rampung paling dekat dengan tenggat Juli 2026. Bila ada keterlambatan konstruksi atau gangguan operasional, pemerintah tidak punya banyak ruang manuver impor yang sudah dihentikan tidak bisa langsung dihidupkan kembali dalam semalam.

GRR Tuban dengan kapasitas 300 ribu barel per hari masih jauh dari siap. Kilang itu belum akan berkontribusi pada target 2026, sehingga beban utama jatuh ke kilang-kilang yang sudah ada.

Detail teknis implementasi dan tanggal pasti pemberlakuan masih menunggu Keputusan Menteri ESDM. Seperti dikutip dari Antara pada Kamis (25/6/2026), Bahlil belum merinci angka penghematan devisa yang ditargetkan maupun mekanisme pengamanan stok bila ada gangguan produksi.

Ini taruhan besar. Kalau kilang berjalan mulus dan harga CPO tidak liar, kebijakan ini bisa jadi tonggak kemandirian energi yang nyata. Tapi kalau ada yang meleset  jadwal kilang molor, harga sawit meledak, atau permintaan solar melonjak dan inilah ujian sesungguhnya baru akan dimulai.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda