Sabtu, 27 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

NASA Uji AI Medic Astronot untuk Misi Jauh dari Bumi

AI medic astronot diuji untuk misi jauh dari Bumi
NASA menguji AI medic astronot untuk bantu diagnosis saat misi jauh dari Bumi, tanpa koneksi ke dokter di Bumi. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — NASA menguji AI medic astronot bernama Crew Medical Officer Digital Assistant atau CMO-DA untuk membantu kru mendiagnosis dan menangani gejala medis saat misi melintasi ruang angkasa yang terlalu jauh untuk konsultasi cepat ke dokter di Bumi. Sistem ini dilaporkan The Register dan ditenagai alat sumber terbuka dari Red Hat.

Uji ini penting karena misi ke Bulan, Mars, dan wilayah antariksa lain tidak lagi bisa mengandalkan “pulang cepat” saat ada masalah kesehatan. Sinyal ke Bumi juga tidak selalu instan. Ada jeda komunikasi. Di titik itu, keputusan medis harus bisa dibuat di lokasi.

AI medic astronot bekerja tanpa koneksi ke Bumi

CMO-DA dirancang sebagai asisten pendukung keputusan klinis, bukan pengganti dokter. Sistem ini berjalan lokal di perangkat, jadi responsnya tidak bergantung pada koneksi aktif ke Bumi. Pendekatan ini membuat astronot tetap bisa mendapat bantuan awal meski komunikasi terganggu atau terlambat.

Red Hat menyebut CMO-DA memakai RamaLama, alat sumber terbuka yang memudahkan pengembang menjalankan, mengambil, dan melayani model AI. Di dalamnya, sistem ini menggabungkan model bahasa besar atau LLM untuk penalaran medis kompleks dan model bahasa-visual atau VLM untuk analisis gejala berbasis gambar. Artinya, AI tidak cuma membaca keluhan tertulis, tapi juga bisa menafsirkan foto atau visual yang relevan.

“RamaLama menyediakan mesin untuk menjalankan LLM bagi penalaran medis kompleks dan VLM untuk analisis gejala berbasis gambar,” kata Red Hat dalam keterangannya. “Ini memungkinkan CMO-DA memproses data teks dan visual tanpa membutuhkan infrastruktur besar.”

Mengapa NASA butuh AI medic astronot sekarang

NASA sebenarnya sudah pernah menghadapi persoalan medis di orbit. Awal tahun ini, lembaga itu memutuskan memulangkan Crew-11 dari International Space Station lebih awal karena ada persoalan medis. Masalah seperti ini masih bisa ditangani karena stasiun itu relatif dekat dan komunikasi dengan Bumi masih mungkin dilakukan.

Situasinya berubah jika manusia terbang lebih jauh. Ke Bulan saja, lalu ke Mars, lalu ke misi yang lebih lama. Dalam skenario seperti itu, return flight cepat bukan pilihan sederhana. Astronot perlu alat bantu yang bisa memberi arahan awal di tempat, terutama saat gejala muncul mendadak dan dokter di Bumi belum sempat memberi analisis lengkap.

Di sinilah nilai praktis AI medic astronot terlihat. Sistem ini bukan obat, bukan dokter, dan bukan ruang gawat darurat berjalan. Tapi ia bisa menjadi lapisan pertama yang membantu kru memilah mana keluhan ringan, mana yang perlu tindakan lanjutan, dan mana yang harus dilaporkan segera ketika jaringan memungkinkan.

Uji masih di Bumi, tapi arahnya jelas

Yang diuji saat ini belum berada di luar angkasa. CMO-DA berjalan di “kembar” terestrial dari HPE Spaceborne Computer yang ada di ISS. Cara ini memungkinkan pengembang menguji ketahanan sistem, akurasi jawaban, dan perilaku model AI sebelum dipasang ke lingkungan antariksa sungguhan.

Red Hat menjelaskan bahwa CMO-DA awalnya lahir sebagai proof of concept. Setelah itu, sistem berpindah dari model berbasis cloud ke deployment edge yang sepenuhnya terputus. Langkah ini krusial. Di luar orbit rendah Bumi, ketergantungan pada cloud justru jadi titik lemah.

HPE juga punya peran besar. Spaceborne Computer sudah memasuki iterasi ketiga di ISS. Perangkat itu dibangun dari komponen komersial siap pakai, dengan server HPE Edgeline dan Proliant yang sanggup menangani beban machine learning dan AI. Jadi, fondasi perangkat kerasnya memang ditujukan untuk komputasi berat di lingkungan ekstrem.

“Setelah divalidasi di Bumi, CMO-DA akan didemonstrasikan kepada pimpinan NASA agar mereka bisa menilai penggunaan lanjutan,” kata Red Hat. Tahap berikutnya masih panjang. Belum ada jadwal resmi untuk penerapan penuh di ISS, apalagi ke misi antariksa yang lebih jauh.

Kenapa teknologi ini relevan untuk pembaca

Kehadiran AI medic astronot memberi gambaran yang makin nyata soal arah AI di dunia nyata: bukan cuma chatbot, tetapi juga alat bantu keputusan di ruang dengan risiko tinggi. Dari rumah sakit terpencil sampai kapal laut, dari lokasi tambang sampai pos riset kutub, model semacam ini punya potensi dipakai saat tenaga ahli sulit dijangkau.

Bagi publik, proyek ini juga menunjukkan satu hal yang sering luput: AI yang berguna bukan selalu yang paling ramai. Kadang justru yang bekerja diam-diam, lokal, tanpa internet, dan fokus pada satu tugas penting. Di ruang angkasa, satu keputusan cepat bisa berarti perbedaan besar.

Masih ada batas. Sistem harus lolos uji keamanan, akurasi, dan keandalan. Gejala medis tidak selalu hitam-putih. Salah tafsir bisa berbahaya. Karena itu, CMO-DA baru diposisikan sebagai pendukung keputusan, bukan penentu akhir. NASA tampaknya paham betul risiko itu.

Red Hat sendiri menulis bahwa mereka ingin mengintegrasikan Red Hat Enterprise Linux AI untuk iterasi berikutnya dari CMO-DA. Itu menandakan proyek ini belum berhenti di prototipe. Arahnya menuju sistem yang lebih matang, lebih ringan dijalankan, dan lebih siap dipakai di ruang dengan sumber daya terbatas.

Dalam laporan The Register, canda kecil soal “virtual Robert Picardo” memang diselipkan. Tapi di balik gurauan itu, pesan utamanya serius: saat manusia pergi lebih jauh dari Bumi, bantuan medis juga harus ikut beradaptasi. Dan AI medic astronot jadi salah satu jawaban paling masuk akal sejauh ini.

Ringkasnya: pertama, NASA sedang menguji asisten medis berbasis AI untuk astronot. Kedua, sistem ini berjalan lokal tanpa perlu koneksi ke Bumi. Ketiga, tujuannya jelas: membantu kru mengambil keputusan medis saat misi jauh membuat konsultasi langsung mustahil.

FAQ singkat

Apa itu CMO-DA? Asisten digital medis untuk kru NASA yang membantu diagnosis dan saran penanganan awal.

Apakah AI ini sudah dipakai di ISS? Belum. Saat ini baru diuji di Bumi memakai kembar terestrial dari komputer Spaceborne.

Apakah AI ini menggantikan dokter? Tidak. Sistem ini hanya pendukung keputusan klinis, bukan pengganti tenaga medis.

Sumber: The Register, Red Hat.

“Kalau sudah di luar jangkauan Bumi, yang dibutuhkan bukan sekadar AI pintar, tapi AI yang tetap berguna saat jaringan hilang,” kata seorang juru bicara Red Hat dalam keterangan yang dikutip media tersebut.

(ZA)

Tag: AI medis astronot luar angkasa NASA RamaLama Red Hat
📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Artikel Untuk Anda