Senin, 29 Juni 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Penjelasan Polri soal Penyelundupan Sabu-Sabu 325 Kg Senilai Rp 585…

Penyelundupan sabu-sabu 325 kg digagalkan di Aceh
Penyelundupan sabu-sabu 325 kg di Aceh dibongkar Polri. (Ilustrasi: AI)

LHOKSEUMAWE — Penyelundupan sabu-sabu 325 kg yang digagalkan di Aceh diduga terkait jaringan internasional Thailand-Indonesia. Bareskrim Polri menyebut barang haram bernilai ratusan miliar rupiah itu masuk lewat jalur laut sebelum dibawa ke darat menggunakan mobil di kawasan Blang Mangat, Lhokseumawe, pada 23 Juni 2026.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso mengatakan operasi ini lahir dari penyelidikan yang sudah dimulai sejak awal Mei 2026. Tim gabungan Subdit IV Dittipidnarkoba, Satgas NIC, Bea Cukai Kanwil Aceh, dan Bea Cukai Lhokseumawe kemudian mengunci pergerakan para pelaku setelah memantau dugaan arus distribusi narkotika dari laut.

Kenapa perkara ini penting? Karena jumlahnya besar, jalurnya lintas negara, dan cara kerjanya rapi. Sabu tidak sekadar diselundupkan; ia dijemput di titik laut lepas, dipindahkan dari kapal ke kapal, lalu diseret masuk ke pesisir Aceh dengan pola yang sulit dilacak kalau aparat terlambat satu langkah saja. Satu pengiriman bisa menyentuh banyak lapis jaringan.

Penyelundupan sabu-sabu 325 kg lewat laut, lalu dibawa ke darat

Dalam penjelasan resminya, Polri menyebut sabu itu dijemput menggunakan kapal nelayan di titik sekitar 120 mil laut dari perbatasan Indonesia-Thailand. Skema yang dipakai adalah ship to ship, yakni memindahkan barang dari kapal asing ke kapal lain di tengah laut sebelum dibawa mendekati pantai Aceh.

Di titik berikutnya, barang dibawa menuju daratan memakai mobil Honda HR-V hitam. Petugas lalu menghadang kendaraan itu di kawasan Blang Mangat. Dua orang yang berada dalam operasi tersebut ikut diamankan. Mereka adalah JF yang diduga berperan sebagai tekong dan Z yang diduga mengatur pengangkutan di darat.

Polri juga menyita 325 bungkus sabu berkemasan teh China yang disimpan dalam 13 karung, satu unit mobil Honda HR-V, satu kapal jenis Oskadon, serta sejumlah telepon seluler. Barang-barang itu diduga dipakai untuk menggerakkan komunikasi antarpelaku dan menjaga alur pengiriman tetap berjalan.

Dua nama buron, polisi buru aliran uang

Dari hasil pemeriksaan awal, Eko menyebut ada dua nama yang diduga menjadi pengendali, yakni MJ dan MHL. Penyidik menetapkan keduanya dalam daftar pencarian orang dan masih memburu jejak mereka. Di titik ini, kasus belum berhenti pada penangkapan di lapangan. Justru baru masuk ke fase yang sering paling menentukan.

“Dari hasil interogasi terhadap pelaku didapatkan dua nama yang diduga sebagai pengendali yaitu MJ dan MHL,” kata Eko, Minggu (28/6/2026).

Penggeledahan lanjutan, analisis ponsel, dan penelusuran rekening akan membuka siapa yang membayar siapa, dari mana modalnya, dan ke mana uang hasil penjualan mengalir. Jalur uang kerap lebih berisik ketimbang jalur kapal. Di sana biasanya terlihat pola perputaran yang tidak wajar, transfer berulang, atau rekening yang dipakai sebentar lalu dibuang.

Detik menulis tersangka yang ditangkap sebagai Jufri dan Zulfahmi, sementara Antara menyebut inisial JF dan Z. Perbedaan ini lebih pada penulisan identitas awal di tingkat media, bukan pada inti perkaranya. Inti faktanya tetap sama: dua orang diamankan, dua nama lain diburu, dan 325 kilogram sabu berhasil dicegat sebelum masuk lebih jauh ke pasar gelap.

Kenapa Aceh kerap dipakai jalur masuk?

Aceh punya garis pantai panjang dan dekat dengan kawasan perairan internasional. Kondisi itu membuat wilayah pesisir rentan dipakai sebagai pintu masuk jaringan narkotika. Bagi penyelundup, laut menawarkan banyak celah. Ada titik gelap, jarak pandang terbatas, dan arus lalu lintas kapal kecil yang sulit dibedakan antara aktivitas nelayan dan pergerakan ilegal.

Skema seperti ini bukan baru sekali. Pola ship to ship sering muncul dalam kasus penyelundupan lintas negara karena memecah rantai pengawasan. Barang tidak langsung dibawa ke pantai utama. Ia dipindah di tengah laut, lalu masuk lewat kapal kecil atau kendaraan biasa. Dari luar tampak seperti kegiatan rutin. Padahal di dalamnya ada jaringan yang saling terhubung.

Bagi pembaca, kasus ini ikut menunjukkan satu hal sederhana: narkotika tidak selalu masuk lewat cara yang terlihat mencolok. Kadang justru lewat kendaraan harian, jalur nelayan, atau jalur pesisir yang tampak sepi. Karena itu, kerja gabungan aparat dan bea cukai menjadi penting. Satu pengamatan yang tepat waktu bisa memutus pengiriman bernilai sangat besar.

Nilai barang bukti dan risiko ke masyarakat

Polri menyebut nilai sabu yang diselundupkan mencapai ratusan miliar rupiah. Angka itu menggambarkan besarnya keuntungan yang diperebutkan jaringan internasional. Semakin besar potensi laba, semakin rapi pula cara mereka menyamarkan pengiriman dan membagi peran antarpelaku.

Di lapangan, barang bukti bukan cuma sabu. Ada mobil, kapal, dan telepon genggam. Tiga benda itu memberi petunjuk penting. Mobil menunjukkan jalur distribusi darat. Kapal membuka jejak asal barang di laut. Ponsel menyimpan percakapan, koordinasi, dan kemungkinan daftar kontak yang bisa mengarah ke aktor lain.

Kasus ini juga jadi pengingat bahwa Aceh tetap berada di garis depan perang panjang melawan narkotika. Bukan hanya soal penindakan, tapi juga pencegahan. Saat satu pengiriman sebesar ini digagalkan, aparat sebenarnya sedang menahan ribuan paket kecil lain yang mungkin akan beredar di kota-kota berbeda kalau sabu itu lolos.

Dengan 325 kilogram sabu, skala ancamannya jelas bukan kecil. Satu kali lolos bisa merusak banyak lini. Dan di kasus seperti ini, satu fakta paling keras tetap berdiri: aparat menyita 325 bungkus sabu dari 13 karung sebelum barang itu mengalir lebih jauh ke pasar gelap.

Ringkasan singkat

1. Bareskrim Polri menggagalkan penyelundupan 325 kilogram sabu di Aceh yang diduga berasal dari jaringan Thailand-Indonesia.

2. Dua orang ditangkap di Lhokseumawe, sementara dua nama lain, MJ dan MHL, masih diburu penyidik.

3. Barang bukti mencakup 325 bungkus sabu, mobil Honda HR-V, kapal Oskadon, dan telepon seluler yang diduga dipakai jaringan.

FAQ singkat

Apa modus utamanya? Barang dijemput lewat laut dengan metode ship to ship, lalu dibawa ke darat memakai kendaraan.

Siapa yang menangani kasus ini? Tim gabungan Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, Satgas NIC, Bea Cukai Aceh, dan Bea Cukai Lhokseumawe.

Apa langkah berikutnya? Penyidik memburu dua DPO, menelusuri aliran dana, dan membaca komunikasi di telepon seluler para pelaku.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram