Yang membuatnya makin yakin, 27 mahasiswa yang tak hadir di ujian akhir, 22 di antaranya sebelumnya memperoleh nilai sempurna di ujian tengah semester. Angka itu membuat alur ceritanya makin sulit dibantah.
Respons Brown yang dinilai terlalu dingin
Serrano mengatakan ia sudah melapor ke pejabat tinggi Brown University, tetapi respons kampus terasa dingin. Presiden universitas, kata dia, diam. Dekan juga tak memberi komentar sampai kasus itu dibawa ke Academic Code Committee. Baru setelah itu, kampus menyebut kejadian tersebut sebagai “peringatan”.
Menurut Serrano, respons seperti itu belum cukup. Ia menilai kampus mestinya berterus terang soal besarnya ancaman AI terhadap ujian tradisional. “Integritas akademik adalah nilai yang layak dipertahankan. Fakultas tidak boleh dibiarkan sendirian dalam pertarungan yang menentukan bila kita ingin menjaga masa depan pendidikan tinggi,” ujarnya.
Pernyataan itu menyentuh titik sensitif. Soalnya, banyak dosen di berbagai kampus menghadapi masalah serupa tanpa alat yang memadai. AI bisa dipakai untuk merapikan jawaban, menyusun argumen, bahkan meniru gaya penulisan mahasiswa. Dalam kelas yang menilai esai atau tugas take-home, batas antara bantuan dan kecurangan makin tipis.
Mengapa ujian take-home jadi titik rawan
Di Brown, Serrano tahun ini memilih format ujian take-home tertutup, model yang lazim di sebagian kampus Ivy League. Mahasiswa diberi waktu lebih longgar untuk menyelesaikan soal, tetapi justru itu membuat tingkat kesulitannya bisa dinaikkan. Tujuannya sederhana: mengukur sejauh mana mereka benar-benar paham.
Masalahnya, model seperti ini juga memberi ruang lebih besar bagi AI. Mahasiswa tidak diawasi langsung. Mereka bisa membuka laptop, menyusun jawaban dengan bantuan mesin, lalu mengirim hasil yang terlihat rapi. Dari luar, semuanya tampak akademis. Dari dalam, belum tentu.
Karena itulah Serrano memutuskan mengubah kebijakan untuk tahun akademik berikutnya. Tugas mingguan tak lagi masuk penilaian akhir. Ujian take-home pun ditiadakan. Tidak ada kompromi.
Langkah ini mungkin terasa keras. Tapi, bagi dosen yang sudah 34 tahun mengajar di Brown itu, pilihan lain justru lebih berisiko. Jika kampus membiarkan AI merusak kejujuran ujian, nilai bisa kehilangan makna. Dan ketika nilai tak lagi dipercaya, gelar ikut tergerus nilainya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.