“Di Uganda, saya tidak percaya pada kebebasan pers! Pers seharusnya dibimbing oleh para kader revolusi,” tulis Kainerugaba lewat akun pribadinya.
Ia mengklaim mandat kekuasaan mutlak ini diturunkan langsung oleh ayahnya sejak tahun 2017. Sembari melontarkan ancaman, ia menyebut penutupan NTV dan Daily Monitor hanyalah langkah awal dari operasi pembersihan yang lebih besar. Sontak, pernyataan ini menuai kecaman global.
Berikut adalah rincian media utama yang terdampak langsung oleh perintah penutupan tersebut:
| Nama Media | Jenis Platform | Status Operasional |
|---|---|---|
| Daily Monitor | Surat Kabar Harian Independen | Berhenti Cetak / Kantor Dikepung |
| NTV Uganda | Stasiun Televisi Swasta | Siaran Dihentikan Paksa |
| Spark TV | Stasiun Televisi Hiburan | Siaran Dihentikan Paksa |
| KFM Uganda | Stasiun Radio Berita | Siaran Dihentikan Paksa |
| Dembe FM | Stasiun Radio Hiburan | Siaran Dihentikan Paksa |
Bukan Kasus Pertama Pembungkaman Pers
Aksi represif rezim Uganda terhadap jurnalisme independen sebenarnya memiliki sejarah panjang yang berulang. Sebagai pewaris takhta politik ayahnya yang sudah berkuasa sejak 1986, Kainerugaba kerap menggunakan kekuatan bersenjata untuk meredam kritik publik. Ini adalah pola lama yang terus dipakai.
Pada tahun 2013 silam, pemerintah juga pernah menduduki kantor Daily Monitor selama sepuluh hari berturut-turut. Jauh sebelum itu, stasiun NTV Uganda bahkan pernah dilarang mengudara hanya beberapa bulan setelah pertama kali diluncurkan pada 2007 karena liputannya dianggap terlalu vokal mengevaluasi kebijakan negara.
Kini, kelompok masyarakat sipil dan organisasi pers internasional tengah menggalang solidaritas untuk memprotes tindakan sewenang-wenang ini. Pertarungan hukum di meja pengadilan kemungkinan besar menjadi langkah berikutnya dari manajemen NMG untuk menuntut pembukaan kembali ruang redaksi mereka yang disegel secara ilegal.
Komunitas internasional kini mendesak adanya sanksi tegas terhadap para petinggi militer Uganda yang terlibat dalam aksi pembungkaman ini. Tekanan diplomatik diharapkan mampu melunakkan sikap keras kepala sang panglima militer demi menyelamatkan pilar demokrasi yang tersisa.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.