Di sisi penerimaan negara, KPPBC Manokwari mencatat perolehan hingga Mei 2026 sebesar Rp17,93 miliar. Angka itu turun 36,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp28,44 miliar.
Data ini memberi gambaran bahwa perlambatan ekspor tidak hanya soal jumlah barang yang keluar dari pelabuhan. Dampaknya merembet ke kas negara, walau aktivitas kepabeanan tetap berjalan dan fungsi pengawasan masih dipertahankan.
Tujuan ekspor masih terbatas di dua negara
Feredy juga menyebut Timor Leste menjadi negara tujuan ekspor terbesar pada Mei 2026 dengan porsi sekitar 67 persen dari total ekspor. Sisanya mengalir ke Papua Nugini.
Peta tujuan ekspor yang masih terkonsentrasi di dua negara ini menunjukkan pasar luar negeri Manokwari belum terlalu lebar. Bagi pelaku industri, kondisi seperti ini punya konsekuensi jelas. Bila satu pasar melambat, dampaknya langsung terasa pada volume keseluruhan.
Dalam konteks perdagangan daerah, pasar yang sempit juga membuat ekspor lebih rentan terhadap perubahan permintaan. Karena itu, diversifikasi tujuan ekspor kerap menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan, terutama bagi wilayah yang masih bertumpu pada satu klaster industri.
Feredy tidak menyebut adanya gangguan produksi, tetapi penurunan permintaan cement clinker memberi sinyal bahwa faktor pasar global masih sangat menentukan. Bagi pelaku usaha di Papua Barat, ini berarti pergerakan ekspor tidak bisa dilepaskan dari kondisi permintaan di negara tujuan.
Impor bahan baku masih mengikuti produksi
Di sisi lain, aktivitas impor sepanjang Januari-Mei 2026 masih didominasi pemasukan bahan baku dan bahan penolong untuk mendukung produksi PT Conch West Papua Cement. Komoditas utama yang masuk adalah natural gypsum.
KPPBC Manokwari mencatat kinerja impor hingga 31 Mei 2026 turun 31,28 persen menjadi 116 juta kilogram dari 168,8 juta kilogram pada periode yang sama tahun 2025. Nilai impornya juga terkoreksi cukup dalam.
“Hingga 31 Mei 2026 ada satu kali kegiatan impor dengan tarif bea masuk lima persen sehingga menghasilkan penerimaan sebesar Rp1,356 miliar. Nilai impor turun 42,35 persen dari Rp210,64 miliar menjadi sekitar Rp121,42 miliar,” kata Feredy.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.