Angka-angka itu memperlihatkan bahwa kegiatan impor di Manokwari masih sangat terkait kebutuhan produksi industri semen. Saat kebutuhan bahan baku turun, impor ikut turun. Saat produksi menyusut, arus barang masuk pun ikut mengecil.
Bagi daerah, kondisi ini memberi dua sisi dampak sekaligus. Aktivitas industri tetap bergerak, tetapi ruang pertumbuhan penerimaan dari perdagangan luar negeri belum lepas dari ketergantungan pada satu sektor utama.
Pengawasan pita cukai dan dorongan UMKM
Meski ekspor dan impor turun, Bea Cukai Manokwari tetap menjalankan fungsi lain, termasuk pengawasan barang kena cukai. Hingga Mei 2026, petugas menindak 6.529 batang hasil tembakau tanpa pita cukai yang kemudian ditetapkan sebagai Barang Dikuasai Negara.
Di luar fungsi pengawasan, kantor ini juga mendorong pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah berorientasi ekspor. Programnya mencakup sosialisasi, asistensi, dan kunjungan langsung kepada pelaku usaha agar bisa menembus pasar internasional.
Kegiatan itu dilakukan bersama Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Barat. Pendampingan seperti ini penting, karena pelaku UMKM sering kali butuh bantuan di tahap paling awal: memahami standar produk, dokumen, dan syarat masuk ke pasar luar negeri.
Bagi pembaca di Papua Barat, data Mei 2026 ini memberi dua pesan sederhana. Ekspor Manokwari memang masih berjalan, tapi tekanannya nyata. Dan di saat yang sama, penerimaan negara dari aktivitas kepabeanan ikut bergerak mengikuti ritme pasar. Satu angka yang paling mencolok: volume ekspor turun 38,68 persen dalam sebulan dibanding Mei 2025.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.