Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Belanda Tersingkir, Koeman Ogah Minta Maaf Pakai 5 Bek Lawan Maroko

Suporter Belanda dan Maroko usai laga Piala Dunia 2026 berakhir adu penalti
Ronald Koeman tolak minta maaf atas taktik 5 bek Belanda yang berujung kekalahan penalti lawan Maroko di Piala Dunia 2026. (Ilustrasi: AI)

MONTERREY — Belanda sudah pulang. Mimpi melaju jauh di Piala Dunia 2026 kandas di babak 32 besar, setelah Maroko menang adu penalti menyusul hasil imbang 1-1 dalam waktu normal. Tapi pelatih Ronald Koeman? Dia tak mau minta maaf satu kata pun.

Pertanyaan besar langsung memburu Koeman seusai peluit panjang berbunyi di Stadion Monterrey, Meksiko: kenapa nekat memasang lima bek melawan Maroko? Tim yang penuh kreativitas dan kecepatan di lini depan itu. Banyak yang mempertanyakan, bahkan mencibir.

Koeman tidak bergeming.

“Kalau Mereka Tidak Samakan Skor, Kalian Akan Puji Saya”

Pelatih berusia 63 tahun itu langsung memberikan pembelaan yang terstruktur — bukan emosional, tapi argumentatif. Menurutnya, pendekatan bertahan yang dipilih terbukti efektif selama jalannya laga, setidaknya hingga menit-menit akhir.

“Dengan pendekatan bertahan ini, kami kebobolan jauh lebih sedikit dibanding saat fase grup. Itu hal positif, meski kami memang kurang ofensif,” kata Koeman seperti dikutip Reuters.

Gol penyama kedudukan Maroko datang di injury time babak kedua lewat Issa Diop — bek Fulham itu meneruskan umpan silang Talbi dengan tandukan yang mengoyak jala gawang Belanda. Sebelumnya, Cody Gakpo lebih dulu membuka keunggulan di menit 72.

Gol telat Diop itulah yang mengubah segalanya. Dari kemenangan meyakinkan menjadi drama penalti. Dan Belanda pun kalah.

Koeman sadar betul ironisnya situasi itu. “Saya yakin, kalau Maroko tidak menyamakan kedudukan dengan gol telat itu, pasti banyak pujian yang mengalir buat saya. Sekarang mungkin saya yang dicaci maki. Tapi saya tetap yakin pilihan itu perlu dilakukan,” ujarnya.

Bukan Takut, Tapi Analisis

Banyak yang membaca formasi lima bek sebagai tanda Belanda gentar menghadapi Maroko. Koeman keras menolak framing itu.

“Ini bukan soal rasa takut. Sama sekali bukan itu. Kenapa harus takut? Kami memasang tiga penyerang di lapangan,” tegasnya.

Belanda memang tidak tampil dengan garis serangan yang kosong. Trio penyerang terbaik mereka tetap bermain — pilihan Koeman lebih ke soal keseimbangan lini tengah dan pertahanan, bukan menyerah sebelum bertanding.

“Ini soal posisi bertahan yang lebih solid, berdasarkan analisis terhadap kekuatan lawan. Kita bisa berdebat soal ini sampai besok malam. Anda punya pandangan sendiri, itu tidak masalah. Tapi saya juga punya pandangan yang berbeda,” kata Koeman, tenang tapi tegas.

Maroko Terlalu Berbeda dari Swedia dan Tunisia

Ada satu poin yang kerap luput dari perdebatan taktik ini: konteks kualitas lawan. Fase grup Belanda mempertemukan mereka dengan Swedia dan Tunisia — lawan yang secara peringkat dan kekuatan berada di bawah Maroko. Di babak gugur, ancaman meningkat drastis.

Koeman melihat Maroko bukan sebagai lawan biasa. Tim Afrika Utara itu adalah semifinalis Piala Dunia 2022 — sejarah yang tidak boleh dianggap remeh. Menghadapi mereka dengan pendekatan yang sama seperti fase grup, bagi Koeman, justru yang tidak masuk akal.

“Kami kebobolan jauh lebih sedikit melawan tim yang jauh lebih kuat daripada Swedia dan Tunisia. Dan jika harus mengulanginya, saya akan memilih cara yang sama,” ucapnya.

Akhir Perjalanan yang Pahit

Belanda pulang lebih cepat dari yang diharapkan. Skuad bertabur bintang — Virgil van Dijk di belakang, Gakpo dan Xavi Simons di lini serang — memiliki kualitas untuk melangkah jauh. Tapi sepak bola tidak selalu berjalan sesuai nama besar.

Satu gol injury time Diop menghancurkan rencana Koeman. Laga yang nyaris sempurna secara taktikal di mata sang pelatih berubah menjadi mimpi buruk dalam hitungan detik. Adu penalti menjadi eksekusi.

Koeman tidak akan mundur dari keyakinannya. Benar atau salah, dia memilih bertanggung jawab atas keputusannya — bukan bersembunyi di balik pemain. Itu setidaknya yang bisa diapresiasi dari sosok yang sudah lama kenyang di dunia sepak bola elite Eropa.

Tapi sepak bola tidak mengenal argumen. Yang dicatat adalah hasil. Dan Belanda, di Piala Dunia 2026 ini, sudah selesai.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda