Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Gempa Venezuela: Bayi dan 2 Anak Ditemukan Hidup dari Reruntuhan

Gempa Venezuela
Wikimedia Commons

LA GUAIRA — Gempa Venezuela memicu operasi penyelamatan besar-besaran setelah seorang bayi dan dua anak laki-laki berusia 11 tahun berhasil ditemukan hidup-hidup dari bawah reruntuhan pada akhir pekan, di tengah pencarian korban yang masih belum ditemukan hingga puluhan ribu orang. Peristiwa itu terjadi di negara pesisir Karibia tersebut, beberapa hari setelah dua gempa besar mengguncang kawasan itu pada Rabu waktu setempat.

Temuan tiga anak itu memberi jeda napas di tengah kabar yang didominasi angka kematian dan kehilangan. Sedikitnya 1.450 orang dilaporkan tewas hingga Sabtu waktu lokal, sementara tim penyelamat dari berbagai negara terus menyisir bangunan yang ambruk di negara bagian La Guaira, wilayah yang paling parah terdampak.

Sulit. Sangat sulit.

Di lapangan, keluarga korban dan relawan sudah lebih dulu bekerja dengan tangan kosong sebelum ratusan hingga ribuan petugas asing tiba. Mereka mengais puing, memanggil nama kerabat, dan menunggu tanda-tanda kehidupan di bawah debu serta panas yang menyengat. Hanya setelah itu, lebih dari 2.000 petugas SAR dari luar negeri mulai memperkuat pencarian.

Tim SAR internasional berpacu dengan 72 jam

Operasi pencarian kini dikejar waktu. Sebastian Eugster, pemimpin tim penyelamat Swiss, mengatakan ada rentang sekitar tiga hari atau 72 jam yang biasanya paling menentukan untuk menemukan korban masih hidup. Setelah masa itu lewat, peluang menyelamatkan orang dari reruntuhan turun tajam. “Ada jendela sekitar tiga hari, 72 jam, di mana setelah itu kemungkinan menyelamatkan orang hidup menurun,” kata Eugster kepada Reuters pada Sabtu.

Tim Swiss yang beranggotakan 80 orang mengaku beberapa kali menemukan tanda kehidupan berkat delapan anjing pelacak mereka. Namun, tidak semua korban bisa dijangkau tepat waktu. Ada yang ditemukan, tetapi tak sempat diselamatkan hidup-hidup. Situasi itu menggambarkan betapa sempitnya ruang harapan di lokasi bencana yang tertimbun beton, besi, dan debu tebal.

Amerika Serikat ikut mengumumkan bantuan darurat. Departemen Luar Negeri AS memuji penyelamatan seorang bayi oleh tim SAR mereka dan menayangkan video di X yang memperlihatkan petugas berhelm mengangkat anak itu dari reruntuhan, masih terbungkus selimut dan menangis. Di sisi lain, Uni Eropa dan Amerika Serikat juga menyatakan akan mengirim paket bantuan bernilai jutaan dolar untuk mendukung respons bencana.

Anak 11 tahun, ayah-anak, dan angka yang terus bergerak

Salah satu penyelamatan paling disorot datang dari tim Kolombia. Reuters TV melaporkan mereka menemukan seorang bocah bernama Moises yang terkubur sekitar tiga meter di bawah puing. Bocah itu dievakuasi dengan tandu, lengan patah, dan matanya ditutup kain untuk melindungi dari silau cahaya setelah berjam-jam berada dalam gelap. Ibunya dan saudara perempuannya dilaporkan tewas dalam gempa.

Di kota Caraballeda, tim penyelamat Meksiko juga mengevakuasi seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dari bangunan yang runtuh. Pada saat yang hampir bersamaan, petugas dari AS dan Prancis menarik seorang pria dan putranya dari sisa bangunan yang hancur, lalu membawanya dengan hati-hati menuju ambulans di atas terpal hitam.

Data di lapangan masih bergerak. Pemerintah Venezuela menyebut ada ratusan orang hilang atau terjebak. Namun, situs yang dipromosikan oposisi politik negara itu pada Minggu mencatat jumlah orang yang belum ditemukan mendekati 50.000. Perbedaan angka ini menunjukkan betapa kacau pencatatan korban saat sistem darurat bekerja di bawah tekanan besar.

La Guaira jadi pusat kehancuran

Di La Guaira, suasana masih diliputi debu, bau menyengat, dan tumpukan bangunan yang rata dengan tanah. Sejumlah relawan dan warga bahkan memakai helm motor karena alat pelindung lengkap belum merata. Petugas terlihat mengidentifikasi jasad di area parkir rumah sakit darurat, sementara beberapa kendaraan mengangkut kantong jenazah dari lapangan tanah.

Warga juga mengeluhkan respons pemerintah yang dinilai lambat dan minim alat berat pada fase awal. Ada laporan relawan sempat memblokir ekskavator yang hendak keluar dari lokasi ambruk karena menganggap alat itu dibutuhkan untuk mencari korban. Pemerintah interim yang dipimpin Delcy Rodríguez awalnya berterima kasih kepada relawan sipil, tetapi kemudian memperketat akses jalan dengan alasan lalu lintas menghambat kendaraan darurat.

Rodríguez menyebut lebih dari 3.000 orang luka-luka dan jumlah yang tinggal di tempat penampungan juga mencapai angka serupa. Sementara itu, Badan Survei Geologi Amerika Serikat memperkirakan potensi korban jiwa bisa melebihi 10.000 orang akibat gempa bermagnitudo 7,2 dan 7,5 itu. Angka itu menempatkan bencana ini dalam jajaran gempa paling mematikan di Amerika Latin dalam seabad terakhir.

Di tengah kepanikan, setiap kabar selamat terasa mahal. Begitu mahal. Bagi keluarga yang masih menunggu di pinggir reruntuhan, temuan tiga anak hidup-hidup menjadi pengingat bahwa pencarian belum selesai, meski 72 jam emas hampir habis dan jumlah korban terus bertambah.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda