Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Piala Dunia 2026: Jerman Pernah Ditakuti, Kini Rekor Buruknya Terus Berlanjut

Piala Dunia 2026
Dua belas tahun lalu, Jerman mengangkat trofi di Rio. (Ilustrasi: AI)

Yang membuat situasi 2026 terasa lebih getir dibanding 2018 dan 2022: kali ini Jerman setidaknya lolos dari fase grup. Ada harapan. Ada sedikit perbaikan. Tapi harapan itu luruh dalam satu malam di Foxborough, di depan ribuan penggemar yang datang jauh-jauh dengan ekspektasi berbeda.

Kekalahan di fase grup bisa dijelaskan sebagai kemalangan. Tapi tersingkir di babak pertama fase gugur — lagi — itu sudah bicara soal sesuatu yang lebih dalam.

Nagelsmann Bertahan, Pertanyaan Tetap Menggantung

Pelatih Julian Nagelsmann menyatakan tidak akan mundur pascaeleminasi ini. Langkah yang bisa dipahami secara manusiawi — tidak ada pelatih yang mau pergi di tengah badai, apalagi ketika proyek jangka panjang belum sempat benar-benar diuji. Tapi publik sepakbola Jerman terkenal kritis, dan tekanan dari media serta federasi hampir pasti akan mengeras dalam beberapa pekan ke depan.

Pertanyaannya lebih besar dari sekadar kursi pelatih. Apakah Die Mannschaft sudah kehilangan identitas bermainnya?

Jerman yang dulu ditakuti bukan semata soal nama besar di starting eleven. Mereka ditakuti karena sistem — pressing terorganisir, transisi cepat dari bertahan ke menyerang, dan yang paling menonjol: mentalitas baja di momen-momen paling genting. Penalti, perpanjangan waktu, laga knockout. Di situ Jerman biasanya paling berbahaya.

Yang terlihat di Foxborough justru sebaliknya. Mereka tidak mampu mematikan lawan saat peluang terbuka, dan ketika tekanan paling tinggi — di titik putih — mereka yang justru retak. Itu bukan soal kualitas individu semata. Itu soal kepercayaan diri kolektif yang sedang dalam kondisi rapuh.

Paraguay dan Kemenangan yang Terasa Logis

Bagi banyak orang, hasil ini terasa mengejutkan. Tapi bagi mereka yang mengikuti Paraguay sejak fase grup, kemenangan ini punya dasar yang jelas.

Paraguay masuk turnamen ini dengan persiapan taktis yang matang. Enciso memberi kreativitas dan ancaman nyata dari lini tengah — pemain Brighton itu memang sudah lama dikenal punya kemampuan di atas rata-rata untuk standar kawasan CONMEBOL. Tapi yang membuat Paraguay benar-benar berbahaya bukan hanya individu. Secara kolektif, mereka bermain sabar, terorganisir, dan tahu persis kapan harus memancing lawan keluar dan kapan harus mengunci ruang.

Strategi low block yang fleksibel, transisi balik yang cepat lewat Enciso dan kawan-kawan, serta ketenangan luar biasa saat adu penalti — itu bukan keberuntungan. Itu buah dari persiapan.

Sejarah pun tercipta. Libur nasional diumumkan. Dan Jerman, lagi-lagi, menonton babak selanjutnya dari rumah sambil merenungkan apa yang salah.

Sinyal Bagi Sepakbola Dunia

Hasil di Foxborough bukan anomali. Ini bagian dari pola yang sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir: hierarki lama sepakbola dunia terus bergeser. Tim-tim yang dulu dianggap kelas dua di Piala Dunia kini datang dengan analisis video, persiapan taktis yang canggih, dan keberanian yang tidak kalah dari raksasa Eropa mana pun.

Paraguay membuktikan itu malam ini. Maroko sudah membuktikannya di Qatar 2022. Pola ini tidak akan berhenti.

Bagi Jerman, pertanyaan terbesar setelah malam di Foxborough bukan soal Piala Dunia 2026 yang sudah usai — melainkan soal fondasi apa yang harus dibangun ulang sebelum edisi 2030 tiba, dan apakah masih ada cukup waktu untuk menjawabnya.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda