Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Piala Dunia 2026: Jerman Pernah Ditakuti, Kini Rekor Buruknya Terus Berlanjut

Piala Dunia 2026
Dua belas tahun lalu, Jerman mengangkat trofi di Rio. (Ilustrasi: AI)

FOXBOROUGH — Dua belas tahun lalu, Jerman mengangkat trofi di Rio. Kini, mereka pulang lebih awal untuk ketiga kalinya berturut-turut dari panggung yang sama.

Di Gillette Stadium, Foxborough, Selasa (30/6/2026) dini hari WIB, Paraguay menghentikan langkah Die Mannschaft di Piala Dunia 2026 lewat drama adu penalti — 4-3, setelah 120 menit laga berakhir 1-1. Bukan sekadar kalah. Ini konfirmasi dari sebuah penurunan yang sudah berlangsung lama tapi belum juga menemukan ujungnya.

120 Menit Ketat, Satu Malam yang Menentukan

Sejak peluit pertama, Paraguay tidak datang untuk sekadar bertahan. Mereka menekan, mengatur tempo, dan membuat Jerman kesulitan membangun serangan dari bawah. Julio Enciso yang membuka keunggulan — tusukan tajam, keberanian membaca ruang, dan eksekusi yang dingin. Persis gambaran tim yang tahu betul apa yang mereka inginkan dari laga ini.

Jerman bereaksi. Kai Havertz menyamakan kedudukan dan memaksa laga masuk perpanjangan waktu. Tapi babak tambahan itu tidak mengubah gambaran besar: Jerman tampak tersendat di sepertiga akhir lawan, tidak punya ide segar untuk memecah blok pertahanan Paraguay yang rapat dan terorganisir.

Adu penalti pun jadi satu-satunya jalan keluar. Dan di situlah Jerman runtuh.

Paraguay sempurna — empat penendang, empat gol. Jerman hanya mengonversi tiga dari empat kesempatan mereka. Koper sudah menunggu di luar stadion sebelum wasit meniup peluit panjang terakhir.

Nama yang mengemuka sebagai pahlawan Paraguay malam itu: Orlando Gill. Nama yang sebelum turnamen ini mungkin hanya dikenal para pengamat sepakbola Amerika Selatan yang rajin. Kini dia bagian dari sejarah. Paraguay menapak ke babak 16 besar, dan pemerintah negaranya langsung mengumumkan libur nasional sebagai bentuk perayaan yang — jujur — sangat layak.

Tren Penurunan yang Tak Bisa Lagi Ditutupi

Angka-angkanya berbicara lebih keras dari pernyataan resmi mana pun.

Edisi Piala Dunia Fase Terakhir Jerman
2014 (Brasil) Juara 🏆
2018 (Rusia) Fase Grup
2022 (Qatar) Fase Grup
2026 (Amerika Utara) Babak 32 Besar (R32)

Tiga edisi Piala Dunia. Tiga kali gagal menembus delapan besar. Untuk ukuran Jerman — negara yang membangun sepakbolanya di atas sistem akademi terpadu, filosofi bermain yang jelas, dan budaya menang — itu bukan tren buruk biasa. Itu krisis struktural.

Yang membuat situasi 2026 terasa lebih getir dibanding 2018 dan 2022: kali ini Jerman setidaknya lolos dari fase grup. Ada harapan. Ada sedikit perbaikan. Tapi harapan itu luruh dalam satu malam di Foxborough, di depan ribuan penggemar yang datang jauh-jauh dengan ekspektasi berbeda.

Kekalahan di fase grup bisa dijelaskan sebagai kemalangan. Tapi tersingkir di babak pertama fase gugur — lagi — itu sudah bicara soal sesuatu yang lebih dalam.

Nagelsmann Bertahan, Pertanyaan Tetap Menggantung

Pelatih Julian Nagelsmann menyatakan tidak akan mundur pascaeleminasi ini. Langkah yang bisa dipahami secara manusiawi — tidak ada pelatih yang mau pergi di tengah badai, apalagi ketika proyek jangka panjang belum sempat benar-benar diuji. Tapi publik sepakbola Jerman terkenal kritis, dan tekanan dari media serta federasi hampir pasti akan mengeras dalam beberapa pekan ke depan.

Pertanyaannya lebih besar dari sekadar kursi pelatih. Apakah Die Mannschaft sudah kehilangan identitas bermainnya?

Jerman yang dulu ditakuti bukan semata soal nama besar di starting eleven. Mereka ditakuti karena sistem — pressing terorganisir, transisi cepat dari bertahan ke menyerang, dan yang paling menonjol: mentalitas baja di momen-momen paling genting. Penalti, perpanjangan waktu, laga knockout. Di situ Jerman biasanya paling berbahaya.

Yang terlihat di Foxborough justru sebaliknya. Mereka tidak mampu mematikan lawan saat peluang terbuka, dan ketika tekanan paling tinggi — di titik putih — mereka yang justru retak. Itu bukan soal kualitas individu semata. Itu soal kepercayaan diri kolektif yang sedang dalam kondisi rapuh.

Paraguay dan Kemenangan yang Terasa Logis

Bagi banyak orang, hasil ini terasa mengejutkan. Tapi bagi mereka yang mengikuti Paraguay sejak fase grup, kemenangan ini punya dasar yang jelas.

Paraguay masuk turnamen ini dengan persiapan taktis yang matang. Enciso memberi kreativitas dan ancaman nyata dari lini tengah — pemain Brighton itu memang sudah lama dikenal punya kemampuan di atas rata-rata untuk standar kawasan CONMEBOL. Tapi yang membuat Paraguay benar-benar berbahaya bukan hanya individu. Secara kolektif, mereka bermain sabar, terorganisir, dan tahu persis kapan harus memancing lawan keluar dan kapan harus mengunci ruang.

Strategi low block yang fleksibel, transisi balik yang cepat lewat Enciso dan kawan-kawan, serta ketenangan luar biasa saat adu penalti — itu bukan keberuntungan. Itu buah dari persiapan.

Sejarah pun tercipta. Libur nasional diumumkan. Dan Jerman, lagi-lagi, menonton babak selanjutnya dari rumah sambil merenungkan apa yang salah.

Sinyal Bagi Sepakbola Dunia

Hasil di Foxborough bukan anomali. Ini bagian dari pola yang sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir: hierarki lama sepakbola dunia terus bergeser. Tim-tim yang dulu dianggap kelas dua di Piala Dunia kini datang dengan analisis video, persiapan taktis yang canggih, dan keberanian yang tidak kalah dari raksasa Eropa mana pun.

Paraguay membuktikan itu malam ini. Maroko sudah membuktikannya di Qatar 2022. Pola ini tidak akan berhenti.

Bagi Jerman, pertanyaan terbesar setelah malam di Foxborough bukan soal Piala Dunia 2026 yang sudah usai — melainkan soal fondasi apa yang harus dibangun ulang sebelum edisi 2030 tiba, dan apakah masih ada cukup waktu untuk menjawabnya.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda