Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Telah datang masanya ustadz tidak selalu manusia (Menguji ulang oto…

Telah datang masanya ustadz tidak selalu manusia (Menguji ulang oto…
Ustazah AI dengan jutaan pengikut TikTok ternyata bukan manusia. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Jutaan orang menonton ceramahnya. Suaranya lembut, wajahnya meyakinkan, dan kata-katanya terdengar runtut seperti pendakwah sungguhan. Tapi tidak ada manusia di balik layar itu. Yang bekerja hanya algoritma.

Beberapa hari terakhir media sosial diramaikan fakta bahwa seorang “ustazah” dengan jutaan pengikut di TikTok ternyata sepenuhnya dibuat oleh kecerdasan buatan (AI). Bukan rekaman ulang. Bukan akun parodi. Murni mesin.

Peristiwa ini mungkin akan segera tenggelam oleh konten viral berikutnya. Tapi pertanyaan yang ia tinggalkan tidak akan semudah itu pergi: ketika manusia tidak lagi bisa membedakan guru agama yang nyata dari representasi digital ciptaan mesin, apa yang terjadi pada kepercayaan kita?

Sanad, Ilmu, dan Tanggung Jawab

Selama berabad-abad, tradisi keilmuan Islam berdiri di atas satu fondasi yang tidak bisa digantikan begitu saja — hubungan antarmanusia. Seorang murid belajar langsung dari gurunya. Sang guru memperoleh ilmu dari gurunya yang lebih tua. Demikian seterusnya, membentuk rantai keilmuan yang disebut sanad.

Dalam Islam, ilmu tidak hanya dinilai dari isinya. Yang tak kalah penting adalah siapa yang menyampaikannya, bagaimana akhlaknya sehari-hari, dan dari mana sumber ilmunya berasal. Otoritas keagamaan bukan sesuatu yang bisa diraih dalam semalam. Ia dibangun melalui proses belajar yang panjang, keteladanan hidup, dan tanggung jawab moral yang menyertai setiap kata yang diajarkan.

AI tidak punya semua itu. Ia bisa mengutip ayat Al-Qur’an dengan fasih. Bisa menyebut hadis, menjelaskan pendapat ulama, bahkan menampilkan ekspresi wajah yang terlihat khusyuk. Tapi ia tidak memikul amanah. Tidak ada rasa takut kepada Allah. Tidak ada konsekuensi moral jika ia keliru.

Ketika Tampilan Mengalahkan Kedalaman

Di sinilah pergeseran yang sesungguhnya sedang terjadi. Dulu orang mempercayai seseorang karena kedalaman ilmunya. Sekarang, tidak sedikit yang mempercayai sesuatu karena tampilannya yang meyakinkan.

Otoritas bergeser — dari tradisi keilmuan menuju kekuatan algoritma. Popularitas digital mulai bersaing dengan otoritas yang dibangun bertahun-tahun di pesantren dan majelis ilmu.

Fenomena ini bukan hanya masalah dunia dakwah. Di berbagai bidang, masyarakat makin terbiasa menerima informasi tanpa terlebih dulu mengenali siapa yang ada di baliknya. Wajah bisa direkayasa. Suara bisa ditiru. Dalam hitungan detik, AI dapat menghasilkan ribuan konten ceramah dengan kualitas visual yang sulit dibedakan dari manusia sungguhan.

Tantangan terbesar bukan lagi soal membedakan mana yang asli. Yang lebih krusial adalah memastikan ilmu yang kita terima bisa dipertanggungjawabkan — oleh siapapun atau apapun yang menyampaikannya.

Tabayyun di Era Deepfake

Islam sebenarnya sudah punya jawabannya. Al-Qur’an memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan tabayyun — verifikasi — setiap kali menerima informasi. Bukan sekadar etika sosial, ini adalah fondasi epistemologi Islam: setiap pengetahuan harus diuji sebelum dipercaya.

Di era AI, semangat tabayyun mendapat konteks baru. Yang perlu diverifikasi bukan hanya isi ceramah, tetapi juga sumbernya, proses penyusunannya, dan siapa yang bertanggung jawab atas konten tersebut.

Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur periode 2021–2026, menyebut bahwa persoalan ini jauh lebih dalam dari sekadar soal ada atau tidaknya sosok ustazah AI tersebut. “Yang jauh lebih penting adalah pertanyaan: bagaimana jika suatu hari nanti manusia tidak lagi mampu membedakan antara guru agama yang nyata dan representasi digital yang diciptakan oleh mesin?”

Pertanyaan itu bukan retorika. Teknologi deepfake dan AI generatif sudah sampai pada titik di mana perbedaan visual antara manusia dan mesin hampir tidak terlihat. Dalam konteks agama, konsekuensinya bisa sangat serius — mulai dari penyebaran fatwa palsu, manipulasi akidah, hingga eksploitasi kepercayaan komunitas yang rentan.

AI Bukan Musuh, Tapi Bukan Guru

Perlu digarisbawahi satu hal: bukan berarti umat Islam harus memusuhi AI. Sama sekali tidak.

Teknologi ini punya potensi luar biasa untuk membantu dunia keilmuan Islam — menerjemahkan kitab-kitab klasik, mempermudah pembelajaran Al-Qur’an, memperluas akses terhadap literatur keislaman yang selama ini hanya bisa dijangkau kalangan terbatas, hingga mendukung penelitian yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Potensi manfaatnya nyata dan besar.

Tapi batasnya juga nyata. AI dapat mengolah data, tapi tidak punya kesadaran moral. Bisa menyusun kalimat yang indah, tapi tidak punya pengalaman spiritual. Bisa meniru cara manusia berbicara, tapi tidak mengenal rasa takut kepada Tuhan.

Seorang guru menanggung beban amanah atas setiap ilmu yang ia sampaikan. Jika ia keliru, ada pertanggungjawaban — di dunia maupun di hadapan Tuhan. AI tidak menanggung itu. Tidak bisa.

Masa Depan Dakwah Bukan Pilihan Antara Dua

Masa depan dakwah bukan tentang memilih antara manusia atau mesin. Framing itu keliru sejak awal.

Yang benar adalah ini: AI seharusnya memperkuat peran ulama, bukan menggantikannya. Memperluas jangkauan ilmu, bukan mengaburkan sumbernya. Memudahkan umat belajar, bukan melemahkan tradisi keilmuan yang sudah diwariskan selama lebih dari empat belas abad.

Teknologi selalu netral di tangan pembuatnya. Yang menentukan dampaknya adalah nilai-nilai yang memandu penggunaannya. Dalam konteks dakwah Islam, nilai itu sudah jelas — kejujuran, amanah, dan tanggung jawab atas setiap kata yang diucapkan.

Ustazah AI di TikTok mungkin hanya peristiwa kecil dalam sejarah panjang teknologi. Tapi ia membuka celah untuk pertanyaan yang jauh lebih besar — ketika mesin sudah bisa ceramah lebih meyakinkan dari banyak manusia, apakah kita sebagai umat juga sedang menjadi lebih bijak dalam memilih kepada siapa kita belajar agama?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak ada di algoritma mana pun. Ia ada di tangan kita.


Ringkasan 3 Poin:

  • Seorang “ustazah” dengan jutaan pengikut TikTok ternyata sepenuhnya dibuat oleh AI — memunculkan krisis kepercayaan soal otoritas agama di ruang digital.
  • Tradisi sanad dalam Islam menekankan bahwa ilmu agama tidak bisa dipisahkan dari siapa yang menyampaikannya dan tanggung jawab moral yang menyertainya — sesuatu yang AI tidak bisa penuhi.
  • AI bisa menjadi alat bantu dakwah yang kuat, tapi tidak bisa menggantikan peran guru manusia yang menanggung amanah atas ilmu yang diajarkan.

FAQ Singkat:

Apakah ceramah dari AI boleh dijadikan referensi agama?
Bisa dijadikan titik awal, tapi wajib diverifikasi ke sumber asli (Al-Qur’an, hadis, kitab ulama) atau ditanyakan kepada guru agama yang jelas sanadnya.

Bagaimana cara membedakan konten dakwah AI dari manusia?
Perhatikan akun pengelolanya, apakah ada sosok nyata yang bertanggung jawab, dan apakah ada rekam jejak keilmuan yang bisa ditelusuri. Jika semua itu tidak ada, bersikaplah skeptis.

Apakah AI dilarang dalam dakwah Islam?
Tidak ada larangan menggunakan AI sebagai alat bantu — terjemahan, penelitian, atau penyebaran konten. Yang bermasalah adalah ketika AI dipresentasikan seolah-olah sebagai otoritas keagamaan yang mandiri tanpa ada manusia yang bertanggung jawab di baliknya.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda