Dampak Nyata dari Kehadiran Psikologis
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin, menegaskan bahwa ayah yang hadir secara fisik namun absen secara psikologis dapat memicu masalah serius pada pembentukan karakter anak. Ayah mungkin ada di rumah, duduk di sofa sambil bermain ponsel, namun tidak melakukan komunikasi substansial dengan buah hatinya. Inilah yang disebut “absen psikologis”.
“Kehadiran ayah merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang. Ayah memiliki peran strategis sebagai figur yang membangun karakter, menanamkan nilai, serta memberikan rasa aman bagi anak,” ujar Syarifuddin di sela peringatan Hari Keluarga Nasional ke-33 tingkat provinsi.
Data dari berbagai riset psikologi keluarga menunjukkan, anak-anak yang mendapatkan perhatian cukup dari ayahnya memiliki risiko lebih rendah terlibat dalam kenakalan remaja. Sosok ayah berfungsi sebagai jangkar moral. Ketika seorang anak menghadapi masalah, kehadiran ayah memberikan perspektif berbeda dari ibu, menciptakan keseimbangan pola asuh yang sehat.
Langkah Kecil Berdampak Besar
Perubahan pola asuh tidak harus dimulai dengan langkah besar yang drastis. Banyak ayah merasa terbebani jika harus langsung menjadi “ayah sempurna”. Padahal, perubahan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana yang konsisten. Luangkan waktu 15 menit saja untuk berbincang setiap malam. Tanyakan apa yang terjadi di sekolah atau apa yang sedang mereka impikan.
Mendampingi proses belajar atau sekadar memberikan dukungan emosional saat anak menghadapi kesulitan di sekolah sudah sangat berarti. Hal ini menunjukkan bahwa anak memiliki “teman” yang bisa diandalkan. Kehadiran ayah adalah kehadiran komitmen.
Keterlibatan ayah yang konsisten akan menciptakan fondasi yang lebih kokoh bagi anak untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin dinamis. Membangun generasi berkarakter bukan lagi beban ibu semata, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi nyata antara ayah dan ibu dalam satu atap pengasuhan.
Ke depan, tantangan ini menuntut perubahan budaya. Masyarakat perlu berhenti melabeli pria yang terlibat dalam urusan rumah tangga sebagai pria “takut istri” atau “tidak produktif”. Sebaliknya, pria yang meluangkan waktu untuk anaknya adalah pria yang sadar akan masa depan bangsa.
Keberhasilan seorang anak hari ini ditentukan oleh seberapa besar ruang yang disediakan orang tua di masa kecil mereka.
Ringkasan Poin Penting:
- Fenomena Fatherless: Sekitar 27,1% keluarga di Kalimantan Selatan memiliki tingkat keterlibatan ayah yang masih rendah, menciptakan celah pengasuhan.
- Peran Strategis: Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi kunci dalam pembentukan karakter, kesehatan mental, dan memberikan rasa aman bagi anak.
- Langkah Nyata: Program seperti GEMAR (Ayah Mengambil Rapor) dan GEMAS (Ayah Mengantar ke Sekolah) menjadi pintu masuk keterlibatan aktif ayah di keseharian anak.
FAQ Singkat:
Apa itu fatherless? Fenomena di mana anak tumbuh dengan minim atau absennya keterlibatan ayah, baik secara fisik maupun psikologis dalam pengasuhan.
Apakah keterlibatan ayah hanya soal fisik? Tidak. Kehadiran ayah mencakup dukungan emosional, komunikasi intens, dan keterlibatan aktif dalam keputusan keseharian anak.
Bagaimana memulai peran ayah yang aktif? Mulailah dengan meluangkan waktu 15-30 menit per hari untuk mendengarkan anak tanpa distraksi, serta terlibat dalam agenda rutin sekolah anak.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.