CARACAS — Korban tewas Venezuela akibat dua gempa kuat di negara itu hampir menyentuh 2.000 orang pada Selasa, 1 Juli 2026, sementara sekitar 43.000 orang masih dinyatakan hilang. Tim penyelamat di berbagai titik terus menyisir reruntuhan, tetapi harapan menemukan korban selamat makin kecil setelah lewat batas kritis 72 jam.
Dampaknya sudah terasa luas. Badan-badan kemanusiaan memperingatkan ancaman kelaparan, penyakit, dan sistem kesehatan yang kewalahan di tengah ribuan warga yang mengungsi. Di lapangan, operasi pencarian kini bergeser. Bukan cuma mencari yang masih hidup, tetapi juga mengevakuasi jasad.
Operasi menyusut setelah peluang hidup menipis
Di Macuto, La Guaira, tim penyelamat dari Ekuador dan Amerika Serikat menghentikan operasi pada Selasa setelah lebih dari 40 jam mencoba mengeluarkan seorang ibu dan tiga anaknya yang terjebak di bawah puing bangunan. Mereka tidak lagi mendapat respons dari dalam reruntuhan. Situasinya berubah cepat. Sangat cepat.
Mayor Jorge Montanero, pemimpin tim Ekuador, menggambarkan kondisi di lapangan dengan nada putus asa. “Pada akhirnya, kami percaya hari-hari itu sudah lewat dan yang akan kami temukan sekarang adalah kematian,” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan perubahan pendekatan para penyelamat: dari kejar waktu menuju penanganan jenazah dan pencarian titik-titik baru yang masih mungkin menyimpan korban hidup.
Meski begitu, secercah harapan belum sepenuhnya padam. Di Caracas, tim penyelamat asal Yordania berhasil menarik seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dari reruntuhan pada Selasa. Anak itu menjadi salah satu dari sedikit penyintas yang ditemukan dalam beberapa hari terakhir, setelah terjebak hampir sepekan sejak gempa mengguncang wilayah itu.
Ancaman baru: penyakit, kelaparan, dan layanan kesehatan runtuh
Persoalan Venezuela tidak berhenti di reruntuhan. Program Pangan Dunia atau WFP mengajukan permohonan dana sebesar 50 juta dolar AS untuk membantu hingga 500.000 orang selama tiga bulan ke depan. Angka itu menunjukkan skala krisis yang kini bergeser dari fase penyelamatan menuju krisis kemanusiaan yang lebih panjang.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga memperingatkan tekanan berat pada fasilitas kesehatan. Sedikitnya tiga pusat kesehatan dilaporkan rusak parah, sementara enam lainnya hanya berfungsi sebagian. Bagi warga yang selamat, kondisi ini berbahaya. Luka kecil bisa berubah jadi masalah besar jika layanan medis sulit dijangkau.
Juru bicara WHO, Christian Lindmeier, menyoroti risiko penyebaran campak, malaria, demam kuning, dan demam berdarah di antara ribuan pengungsi. Sanitasi yang buruk dan rendahnya tingkat imunisasi membuat wabah bisa menyebar lebih cepat. Dalam situasi seperti ini, air bersih, obat, dan akses dokter bukan lagi kebutuhan tambahan. Itu penentu hidup-mati.
Kenapa angka korban masih bisa berubah
Data korban tewas Venezuela juga diperkirakan masih bergerak naik. Sejumlah laporan media internasional menyebut angka kematian telah melampaui 1.900 orang, dengan ribuan lainnya belum diketahui nasibnya. Perbedaan angka ini lazim terjadi pada fase awal bencana besar karena evakuasi masih berlangsung, banyak wilayah sulit dijangkau, dan laporan dari lapangan belum sepenuhnya terverifikasi.
Yang pasti, dua gempa kuat itu meninggalkan kerusakan luas di kawasan padat penduduk, merobohkan bangunan, dan memutus akses bantuan di beberapa titik. Ketika 72 jam pertama lewat, peluang menemukan korban hidup biasanya turun tajam. Para penyelamat tahu itu. Namun mereka tetap bekerja, satu puing demi satu puing.
Bagi keluarga yang menunggu kabar, setiap jam terasa panjang. Bagi pemerintah dan lembaga bantuan, fokus berikutnya akan menentukan seberapa cepat wabah, kelaparan, dan krisis medis bisa dicegah. Venezuela belum keluar dari fase bahaya. Justru babak tersulitnya baru mulai.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.