JAKARTA, JOURNALARTA.COM — RUU PFII mulai diintensifkan pembahasannya oleh pemerintah Indonesia. Rancangan Pusat Finansial Internasional Indonesia itu diposisikan sebagai cara baru untuk menarik modal global, memperkuat pendanaan domestik, dan membuat Indonesia lebih kompetitif di Asia Tenggara.
Langkah ini penting karena kebutuhan dana untuk proyek infrastruktur, transisi energi, dan ekspansi ekonomi tidak makin kecil. Pemerintah ingin menyiapkan wadah yang lebih ramah bagi investor besar, tanpa mengandalkan skema pembiayaan tradisional yang belakangan makin mahal dan sensitif terhadap gejolak global.
RUU PFII dan ambisi jadi hub keuangan
Dalam pembahasan terbaru, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan PFII bukan sekadar kawasan perkantoran baru. Ia menyebutnya sebagai ekosistem regulasi yang dirancang untuk memudahkan arus modal masuk dan memberi kepastian hukum bagi pelaku usaha finansial internasional.
“PFII dirancang untuk menjadi gerbang investasi yang menawarkan skema hukum yang borderless dan efisien,” ujar Purbaya dikutip Jum’at (3/7).
Pemerintah, kata dia, ingin membuka akses yang lebih luas bagi investor institusi dari Jepang, Australia, Amerika Serikat, hingga China untuk menanamkan modal pada proyek-proyek strategis nasional.
Kalimat kuncinya jelas, Indonesia sedang memburu modal jangka panjang. Bukan dana cepat yang habis dalam setahun, melainkan pembiayaan yang bisa mengalir ke proyek besar dan memberi efek berlapis ke perekonomian.
Fasilitas yang ditawarkan
RUU PFII memuat gagasan tentang kerangka hukum yang lebih fleksibel. Salah satu tujuannya ialah memberi insentif pajak dan kepastian regulasi bagi perusahaan multinasional yang mau menjadikan Indonesia sebagai regional treasury hub.
Di sisi pasar modal, pemerintah ingin mempermudah emiten domestik maupun asing menerbitkan obligasi dan menjalankan aksi korporasi dengan standar pelaporan yang diakui luas. Bagi lembaga keuangan asing, proses perizinan juga diharapkan lebih singkat dan tidak berbelit.
Skema seperti ini bukan hal baru dalam persaingan kawasan. Singapura sudah lama memanen manfaat dari ekosistem finansial yang efisien, sementara Hong Kong tetap jadi magnet bagi modal lintas negara. Indonesia kini mencoba mengambil sebagian pangsa itu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.