Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Kepala BRIN: Kampus Jangan Hanya Kejar Publikasi, Riset Harus Berdampak bagi Industri

Kepala BRIN
Foto: Wonderlane/Unsplash

SURABAYA — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, melontarkan kritik tajam sekaligus harapan bagi dunia akademis tanah air. Ia menegaskan, perguruan tinggi di Indonesia perlu mengubah paradigma riset mereka secara drastis. Fokus tidak boleh lagi berhenti pada tumpukan publikasi ilmiah di jurnal internasional, melainkan harus beralih ke hasil riset yang mampu menyentuh kebutuhan industri dan masyarakat secara nyata.
Pesan ini disampaikan Arif saat melakukan kunjungan kerja ke Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada Sabtu (4/7). Menurutnya, Indonesia tengah berupaya keras bertransformasi menjadi *innovation-driven economy* atau ekonomi yang berbasis pada inovasi. Dalam kerangka besar ini, perguruan tinggi memegang posisi sebagai motor penggerak utama. Tanpa pergeseran orientasi, riset hanya akan menjadi tumpukan kertas tanpa nilai guna.

Mengapa Hilirisasi Riset Menjadi Krusial

Selama ini, banyak penelitian di perguruan tinggi berakhir sebagai koleksi data di rak perpustakaan atau sekadar pemanis portofolio dosen. Padahal, tantangan nyata yang dihadapi bangsa saat ini adalah kesenjangan antara apa yang dihasilkan di laboratorium dengan kebutuhan pelaku industri. Ada jurang yang lebar. Jurang ini harus segera ditutup.
Arif menyebutkan bahwa orientasi riset yang hanya mengejar kuantitas publikasi tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap daya saing nasional. Ia mendorong akademisi untuk mulai berpikir tentang hilirisasi. Riset yang berkualitas seharusnya bisa bermuara pada lahirnya produk, teknologi tepat guna, atau solusi bisnis yang dapat diadopsi oleh masyarakat luas.
Data dari berbagai studi kebijakan menunjukkan salah satu hambatan terbesar dalam ekosistem riset adalah putusnya jembatan komunikasi antara kampus dan sektor usaha. Seringkali, hasil penelitian tidak selaras dengan kebutuhan teknologi industri. Sebaliknya, industri pun seringkali menutup mata terhadap potensi riset lokal karena menganggapnya belum siap pakai. Padahal, inovasi di dalam negeri adalah kunci kemandirian ekonomi bangsa di masa depan.

Kolaborasi sebagai Kunci Perubahan

Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, Arif menekankan pentingnya sinergi empat pilar: akademisi, pemerintah, pelaku dunia usaha, dan komunitas masyarakat. Tanpa kolaborasi yang erat, inovasi hanya akan terjebak dalam ruang lingkup teoritis. Kampus harus membuka diri untuk mendengar problem di lapangan. Industri pun perlu lebih proaktif melirik potensi riset di perguruan tinggi.
Menanggapi arahan tersebut, Rektor Umsura, Prof. Mundakir, menyatakan bahwa kampusnya telah menjadikan penguatan ekosistem riset sebagai salah satu pilar utama pengembangan institusi. “Kami menyadari bahwa kampus bukan menara gading. Riset kami harus bisa dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat dan industri di sekitar kita,” ujar Mundakir saat memberikan sambutan dalam kunjungan tersebut.
Langkah ini sejalan dengan komitmen BRIN yang menyediakan berbagai skema dukungan pendanaan untuk menjembatani riset hingga ke fase komersialisasi. Dukungan ini diharapkan mampu mengurangi beban finansial peneliti saat membawa prototipe mereka ke tahap produksi massal.

Instrumen Pendanaan BRIN untuk Hilirisasi

BRIN sendiri telah menyiapkan beberapa instrumen pendanaan untuk mempercepat proses hilirisasi ini. Berikut adalah beberapa skema yang bisa dimanfaatkan oleh peneliti dan perguruan tinggi:

Nama Skema
Fokus Utama

RIIM
Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju dengan skala strategis.

PRIS
Program Riset Inovasi Strategis untuk kebutuhan industri.

Matching Fund
Dukungan khusus untuk startup riset dan kolaborasi mitra.

Melalui skema-skema tersebut, BRIN ingin memastikan bahwa riset tidak hanya berhenti pada prototipe. Fokus dukungan diarahkan pada solusi nyata untuk sektor krusial seperti pangan, energi, kesehatan, hingga ketahanan sosial masyarakat. Dengan pendanaan yang tepat, diharapkan hambatan finansial dalam proses hilirisasi dapat teratasi dengan lebih efisien dan terukur.

Menatap Tantangan ke Depan

Peralihan orientasi ini memang bukan perkara mudah bagi perguruan tinggi yang selama puluhan tahun terbiasa dengan budaya administratif publikasi. Ada perubahan kultur yang harus dilakukan secara sistemik. Dosen tidak hanya dituntut mengajar dan menulis jurnal, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap dinamika pasar dan teknologi.
Jika ingin Indonesia memiliki daya saing yang diperhitungkan di kancah global, kampus harus berani keluar dari zona nyaman. Inovasi yang berdampak nyata adalah harga mati untuk sebuah kemajuan bangsa. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi negara maju. Semuanya dimulai dari laboratorium yang berorientasi pada kemanfaatan.
Ke depannya, keberhasilan perguruan tinggi tidak lagi diukur dari seberapa banyak dosen yang meraih gelar profesor atau berapa banyak jurnal yang terbit, melainkan seberapa besar kontribusi riset mereka dalam menyelesaikan masalah bangsa. Fokus ini akan menjadi peta jalan bagi seluruh institusi pendidikan tinggi dalam satu dekade ke depan. Transformasi ini baru saja dimulai.
***
**Ringkasan: Mengubah Paradigma Riset Kampus**
* **Hilirisasi Mutlak:** Riset di kampus harus berhenti sekadar menjadi publikasi ilmiah dan mulai diarahkan pada penciptaan produk serta solusi praktis untuk industri.
* **Sinergi Empat Pilar:** Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat adalah kunci agar hasil riset tidak terjebak dalam ruang teoritis.
* **Dukungan Finansial:** BRIN menyediakan berbagai skema pendanaan seperti RIIM dan *Matching Fund* untuk membantu peneliti membawa riset mereka dari prototipe hingga ke pasar.
**FAQ Singkat**
* **Apa itu hilirisasi riset?** Proses mengubah temuan atau prototipe hasil penelitian menjadi produk atau layanan yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat langsung bagi masyarakat.
* **Mengapa riset kampus sering gagal sampai ke industri?** Karena adanya kesenjangan komunikasi dan ketidaksesuaian antara target riset akademisi dengan kebutuhan praktis di lapangan industri.
* **Bagaimana cara mendapatkan pendanaan dari BRIN?** Peneliti atau perguruan tinggi dapat mengajukan proposal melalui skema pendanaan seperti RIIM, PRIS, atau *Matching Fund* yang dibuka secara berkala oleh BRIN sesuai dengan prioritas riset nasional.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda