Sabtu, 4 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Pakar Bongkar Alasan Pertamina Tak Turunkan Harga Pertamax

Pakar Bongkar Alasan Pertamina Tak Turunkan Harga Pertamax
Foto: Ekaterina Belinskaya/Pexels

JAKARTA — Stabilitas harga energi menjadi salah satu indikator krusial dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika pasar global. Hingga akhir pekan ini, harga Pertamax di seluruh SPBU Pertamina masih dipatok pada angka Rp16.250 per liter, meski tren harga minyak mentah dunia menunjukkan tanda-tanda penurunan dalam satu bulan terakhir.
Keputusan korporasi pelat merah ini memicu berbagai tanda tanya di masyarakat. Mengapa harga di tingkat ritel tidak segera melandai mengikuti tren harga minyak dunia? Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menyebut langkah ini sebagai strategi *price smoothing* atau penghalusan harga yang lazim diterapkan oleh perusahaan energi besar dunia untuk menjaga stabilitas arus kas.

Strategi Pemulihan Margin Pertamina

Menurut Yayan, kebijakan mempertahankan harga saat ini bukan tanpa landasan. Pertamina sebenarnya sedang melakukan upaya pemulihan margin setelah periode lonjakan harga minyak dunia yang terjadi beberapa bulan lalu. Selama kurun waktu tersebut, perusahaan harus menyerap kerugian yang cukup dalam karena harga jual di tingkat domestik tidak sepenuhnya mencerminkan biaya perolehan yang melambung.
“Pertamina menyerap kerugian saat harga minyak dunia sedang berada di level tertingginya. Kini, saat harga minyak cenderung melandai, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya mengikuti fluktuasi jangka pendek,” ujar Yayan saat dihubungi, Sabtu (3/7).
Ia menambahkan, saat Pertamax disesuaikan pada Juni lalu, nominal Rp16.250 per liter sebenarnya masih berada di bawah angka keekonomian yang disiratkan formula pasar saat itu. Perusahaan, lanjut Yayan, telah menanggung beban lebih besar sejak awal agar dampak kenaikan harga tidak terlalu mengagetkan konsumen. Strategi ini menjadi bantalan agar operasional tetap berjalan meski pasar minyak global tidak menentu.

Analisis Formula dan Inflasi

Secara teoretis, formula perhitungan harga BBM nonsubsidi memang memiliki celah untuk turun. Yayan mencatat bahwa berdasarkan perhitungan dasar biaya produksi dan distribusi, harga keekonomian Pertamax sebenarnya berpotensi menyentuh angka Rp13.700 per liter jika mengikuti harga minyak mentah saat ini. Namun, pendekatan *smoothing* membuat harga kemungkinan besar akan bertahan di kisaran Rp16.000 per liter untuk jangka waktu tertentu.
Dampak ekonomi dari kebijakan ini cukup krusial bagi inflasi nasional. Yayan memaparkan estimasi penurunan inflasi bisa mencapai 0,4 poin persentase dalam tiga bulan ke depan jika harga Pertamax dipangkas secara drastis sesuai dengan penurunan formula pasar.
Skenario Harga Pertamax
Dampak Inflasi (3 Bulan)
Implikasi Utama
Dipangkas (sesuai formula)
-0,4%
Inflasi turun, daya beli masyarakat lebih terjaga
Ditahan (status quo)
Nihil
Pemulihan margin keuangan Pertamina
Jika harga dipertahankan pada level saat ini, penurunan harga minyak dunia tidak akan langsung berdampak pada penurunan laju inflasi. Seluruh margin yang terbentuk dari selisih harga ini mengalir ke perbaikan keuangan internal Pertamina. Sementara itu, beban subsidi pemerintah untuk jenis BBM lain seperti Pertalite dan Solar tetap menjadi porsi terbesar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Bukan Sekadar Mengikuti Pasar

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda