JAKARTA — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akhirnya angkat bicara merespons gelombang isu pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang mendera PT Tokopedia. Meski tidak lagi menjadi pengendali utama, posisi GOTO sebagai pemegang saham minoritas tetap menempatkan perusahaan dalam posisi strategis untuk mengamati dinamika internal e-commerce tersebut.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Sabtu (4/7/2026), Direktur GOTO, Simon Tak Leung Ho, menyatakan pihaknya menghormati setiap keputusan manajemen Tokopedia terkait penyesuaian organisasi. Saat ini, GOTO tercatat masih menggenggam 24,99% saham di perusahaan e-commerce tersebut.
Dampak Keuangan Terukur dan Posisi Investasi
Pasar sempat dibuat bertanya-tanya mengenai seberapa dalam efisiensi ini memukul neraca keuangan GOTO. Simon menegaskan bahwa dampak dari aksi korporasi tersebut terhadap GOTO cenderung terbatas. Hal ini disebabkan oleh metode pencatatan investasi yang digunakan perseroan dalam laporan keuangannya.
“Perseroan mencatatkan investasinya di PT Tokopedia menggunakan metode ekuitas sesuai dengan PSAK 228, yakni investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama,” ujar Simon dalam keterangan resminya. Dengan pola tersebut, GOTO tidak melihat adanya dampak material, baik dari sisi keuangan maupun non-keuangan, terhadap laporan laba rugi perseroan akibat kabar yang beredar di publik.
Dalam praktik akuntansi, metode ekuitas memang membatasi risiko kerugian yang harus ditanggung investor secara langsung pada laporan laba rugi induk perusahaan, kecuali jika nilai investasi tersebut mengalami penurunan nilai (impairment) yang signifikan. Bagi investor GOTO, penjelasan ini menjadi sinyal bahwa restrukturisasi di level anak usaha tidak akan mengguncang fundamental keuangan jangka pendek mereka.
Restrukturisasi di Bawah Kendali TikTok
Kabar mengenai efisiensi drastis di tubuh Tokopedia pertama kali mencuat melalui media sosial, yang menyebutkan adanya rencana pemangkasan hingga 90% karyawan. TikTok, selaku pemegang saham pengendali sebesar 75% sejak akhir 2023, memang sedang melakukan perombakan besar di dalam struktur operasional pasca-akuisisi.
Juru bicara TikTok menjelaskan bahwa fokus utama mereka saat ini adalah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D). Penyesuaian ini diklaim bertujuan untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang yang lebih berkelanjutan bagi bisnis, termasuk bagi para kreator dan mitra penjual di platform tersebut. Integrasi teknologi antara TikTok Shop dan sistem Tokopedia menuntut efisiensi yang ketat agar tidak terjadi tumpang tindih fungsi.
“Ini bukan keputusan yang mudah. Kami fokus untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekan yang terdampak selama masa transisi ini,” ungkap pihak TikTok dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026). Upaya restrukturisasi ini mencerminkan ambisi pemilik baru untuk mengubah model bisnis menjadi lebih ramping, kompetitif, dan adaptif terhadap fitur belanja berbasis konten video yang menjadi kekuatan utama TikTok.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.