Selasa, 7 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Represi Turki Menyasar Media dan Publik Jelang KTT NATO Ankara

Represi Turki Menyasar Media dan Publik Jelang KTT NATO Ankara
Foto: Werner Pfennig/Pexels

ANKARA — Represi Turki kembali meluas menjelang KTT NATO di Ankara, dengan lebih dari 200 orang ditangkap dalam penggerebekan, seorang komedian dijebloskan ke tahanan pra-persidangan, dan kapal pesiar yang membawa penumpang LGBTQ+ ditolak sandar.

Langkah itu menambah tekanan pada ruang publik di Turki saat para pemimpin NATO berkumpul di ibu kota. Dampaknya bukan cuma ke aktivis dan jurnalis; warga biasa juga ikut merasakan iklim takut yang makin tebal.

Penangkapan, sensor, dan larangan protes

Otoritas Turki melakukan penggerebekan di Ankara pada akhir Juni dan menahan lebih dari 200 orang. Menurut otoritas penuntut di Ankara, operasi itu ditujukan untuk “mengungkap aksi dan kegiatan organisasi teroris”, dengan tuduhan yang dikaitkan ke kelompok sosialis, Marxis, hingga ISIS.

Namun, Human Rights Watch menyebut pemerintah tak menunjukkan bukti kuat atas dugaan tindak pidana yang disematkan kepada para tersangka. Di antara mereka yang ditahan ada jurnalis dan aktivis LGBTQ+ Yıldız Tar, dua pengacara, seorang akademisi, dan 14 anggota organisasi lingkungan yang fokus pada reboisasi.

Sebelumnya, otoritas juga melarang demonstrasi publik di sejumlah titik menjelang forum NATO. Pesannya jelas. Ruang jalanan dipersempit. Kritik dibuat mahal.

Komedian, jurnalis, dan kru kapal kena sasaran

Kasus yang paling menyita perhatian datang dari komedian stand-up Deniz Göktaş. Ia ditangkap setelah tiba di Bandara Istanbul dari liburan, lalu ditahan pra-persidangan dengan tuduhan menghina presiden dan merendahkan nilai agama.

Göktaş dikaitkan dengan sebuah pertunjukan di Istanbul pada 1 Juni. Video penampilannya diunggah ke YouTube pada 24 Juni dan sudah ditonton hampir 9 juta kali. Dalam keterangan ke jaksa, menurut media Turki Bianet, Göktaş menegaskan kata “diktator” adalah istilah politik yang sering dibahas di ruang publik dan ia tak berniat menghina siapa pun.

Di hari lain, dua jurnalis juga ditangkap. Mereka adalah Buse Söğütlü, editor berita internasional di media daring T24, dan Ceren Erdoğdu dari OdaTV. Pengacara Söğütlü, Erman Öztürk, mengatakan kepada AFP bahwa penangkapan itu diduga terkait dengan KTT NATO. Ezgi Onalan, pimpinan cabang Istanbul dari Asosiasi Pengacara Kontemporer, juga ikut ditahan, menurut kelompok hak asasi itu di X.

Seorang jurnalis lain, bersama aktivis LGBTQ+, masuk daftar orang yang diduga terkait kelompok teroris. Tuduhan seperti ini membuat garis antara keamanan dan pembungkaman makin kabur.

Kenapa ini penting buat publik

Represi semacam ini punya efek langsung. Jurnalis jadi lebih berhitung sebelum menulis. Komedian menahan diri sebelum membuat satire. Aktivis enggan menggelar aksi. Dan publik kehilangan ruang untuk mengkritik pemerintah tanpa rasa waswas.

Ini juga penting bagi orang di luar Turki. Ankara sedang menjadi tuan rumah KTT NATO, forum yang biasanya menyorot keamanan, anggaran pertahanan, dan hubungan Barat dengan Turki. Tapi ketika sekutu Barat memilih diam soal kebebasan sipil, kritik terhadap otoritarianisme justru makin sulit terdengar.

David Satterfield, mantan duta besar Amerika Serikat untuk Ankara yang kini memimpin Baker Institute for Public Policy di Rice University, mengatakan kepada Reuters bahwa Barat perlu terus bicara soal kemunduran institusi demokrasi di Turki. Menurut dia, arah negara itu belum tak bisa diubah, dan warga Turki perlu mendengar pihak luar menyebut masalah ini dengan terang.

Tekanan terhadap oposisi juga belum mereda. Partai Rakyat Republik (CHP) dilaporkan menghadapi gelombang penindakan, termasuk penahanan Wali Kota Istanbul Ekrem İmamoğlu dan proses hukum atas dugaan korupsi. Pada akhir Mei, pengadilan juga menyingkirkan pemimpin CHP dalam langkah yang dikritik sebagai upaya melemahkan oposisi jelang pemilu berikutnya.

Turki dan sorotan kebebasan pers

Laporan Reporters Without Borders tahun ini menempatkan Turki di urutan 163 dari 180 negara dalam indeks kebebasan pers. Organisasi itu menuduh otoritas menggunakan “segala cara yang mungkin” untuk melemahkan para pengkritik.

Angka itu bukan sekadar statistik. Itu cermin. Ketika negara dengan posisi strategis seperti Turki makin keras menekan pers dan warga sipil, sinyalnya akan terasa ke seluruh kawasan. Apalagi saat sekutu-sekutu Barat lebih sibuk membahas kerja sama senjata dan keamanan ketimbang hak dasar.

Patti LuPone, artis asal Amerika Serikat yang dijadwalkan tampil dalam pelayaran Atlantis, ikut menyuarakan protes setelah kapal itu ditolak masuk ke Turki. Dalam unggahan media sosial, ia menyebut kapal itu dilarang masuk hanya karena siapa saja yang berada di dalamnya.

Peristiwa-peristiwa ini saling nyambung. Penangkapan massal, penahanan komedian, pembungkaman jurnalis, larangan kapal singgah, sampai tekanan ke oposisi—semuanya membentuk satu pola yang makin sulit disangkal. Dan menjelang KTT NATO, pola itu justru terlihat di depan mata dunia.

“Penting bagi Barat untuk terus berkomentar soal kemunduran institusi demokrasi di Turki,” kata Satterfield kepada Reuters. “Turki belum berada di luar jangkauan perbaikan.”

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda