KYIV — serangan Rusia di Kyiv menewaskan 21 orang dan melukai puluhan warga saat gelombang rudal serta drone menghantam ibu kota Ukraina dan wilayah sekitarnya pada Senin dini hari, sehari sebelum KTT NATO dimulai di Ankara, Turki. Serangan itu juga merusak apartemen bertingkat dan bangunan lain, sekaligus menyorot celah besar di pertahanan udara Ukraina.
Di Kyiv, 15 orang tewas dan 56 lainnya luka-luka, menurut kepala administrasi kota Tymur Tkachenko. Di wilayah Kyiv yang lebih luas, enam orang tewas dan 21 orang terluka, kata kepala administrasi regional Mykola Kalashnyk. Angka itu bisa bertambah. Petugas masih menyisir puing-puing bangunan yang hancur.
Rudal balistik lolos, Patriot jadi sorotan
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan semua rudal balistik yang ditembakkan Rusia mengenai sasaran. Serangan itu kembali membuka masalah yang selama ini dikeluhkan Kyiv: stok pencegat Patriot masih kurang untuk menghadang rudal jenis ini.
“Kami berhasil melawan drone dan rudal jelajah, tetapi tidak bisa menjatuhkan rudal balistik karena kekurangan interceptor Patriot,” kata Zelenskyy dalam pernyataannya. Ia mendesak Amerika Serikat dan sekutu Eropa membawa pulang “keputusan kuat” dari pertemuan NATO di Ankara untuk memperkuat pertahanan udara Ukraina.
Pesannya sederhana. Cepat. Kirim Patriot. Soalnya, selama rudal itu masih tersimpan di gudang sekutu, Rusia akan terus punya ruang untuk menghantam rumah-rumah warga sipil.
Evakuasi berlangsung di tengah api dan puing
Serangan dimulai sekitar pukul 01.00 waktu setempat dan berlangsung berjam-jam. Sedikitnya 15 gedung hunian bertingkat terkena serangan. Di distrik bersejarah Podilskyi, empat bangunan apartemen rusak dan satu blok sembilan lantai hancur hampir dari lantai lima ke atas, membuat sejumlah korban terjebak di dalam.
Petugas pemadam dan penyelamat menggunakan tangga truk untuk menjangkau warga yang masih terperangkap. Api juga belum sepenuhnya padam ketika tim penyelamat terus mengangkat bongkahan beton dan besi. Walikota Kyiv Vitali Klitschko mengatakan kru penyelamat masih mengevakuasi penghuni dari bangunan yang porak-poranda.
Seorang warga bernama Alyona, 22 tahun, terlihat menunggu kabar temannya, Vika, yang berusia 19 tahun. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata di lokasi penyelamatan bahwa mereka terus menunggu petugas menemukan para korban. Adegan itu menggambarkan betapa dekat perang dengan kehidupan sehari-hari. Bukan di garis depan. Di kamar tidur. Di ruang keluarga.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.