Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Harga Emas Tergelincir, Investor Menanti Risalah Rapat The Fed

Harga Emas Tergelincir, Investor Menanti Risalah Rapat The Fed
Foto: Zlaťáky.cz/Pexels

JAKARTA — harga emas dunia tergelincir pada perdagangan Selasa, 7 Juli 2026 waktu setempat, saat investor menunggu risalah rapat kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan rilis Rabu. Tekanan datang dari dua arah sekaligus: penguatan ekspektasi suku bunga AS dan memanasnya konflik di Timur Tengah.

Di pasar spot, emas turun 0,6% ke US$ 4.141,16 per ons. Kontrak berjangka emas untuk pengiriman Agustus juga melemah 0,2% menjadi US$ 4.157,40. Pergerakan itu terjadi setelah emas sempat menyentuh level tertinggi dua pekan pada awal pekan ini.

Investor menunggu sinyal The Fed

Fokus pelaku pasar sekarang tertuju ke notulen rapat The Fed Juni. Dokumen itu dinilai bisa memberi petunjuk lebih jelas soal pandangan bank sentral AS terhadap inflasi, pertumbuhan, dan peluang perubahan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Pasar tidak ingin salah baca.

“Saya pikir kenyataan mulai terungkap bahwa The Fed masih sangat fokus pada pengendalian inflasi, jadi suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama tampaknya menjadi jalur The Fed yang paling mungkin,” kata Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, seperti dikutip CNBC.

Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga pada September di kisaran 56% hingga 60%. Angka itu berubah-ubah, tetapi arahnya masih jelas: pasar belum sepenuhnya menutup opsi pengetatan lanjutan. Karena emas tidak memberi imbal hasil, setiap sinyal suku bunga tinggi biasanya cepat menekan minat beli.

Kenapa emas ikut goyah

Korelasi emas dengan suku bunga masih sangat kuat. Saat imbal hasil obligasi naik atau dolar AS menguat, emas cenderung kurang menarik bagi pembeli global. Logam mulia ini memang sering dipakai sebagai lindung nilai saat inflasi naik, tetapi daya tariknya bisa pudar jika biaya peluang memegang emas makin mahal.

Jim Wyckoff, analis pasar American Gold Exchange, mengatakan indeks dolar AS yang sedikit lebih tinggi pada hari itu sudah cukup menjadi faktor bearish harian bagi emas. “Para trader akan mencermati risalah rapat tersebut untuk melihat apakah mereka bisa mendapatkan petunjuk lain mengenai arah kebijakan moneter AS. Kejutan apa pun dari risalah itu berpotensi menggerakkan pasar,” ujarnya.

Data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan pekan lalu sempat mendorong emas ke posisi kuat. Laporan itu membuat pasar mengendurkan ekspektasi kenaikan suku bunga jangka pendek. Tapi sentimen belum benar-benar stabil. Satu data yang lemah tidak otomatis mengubah sikap The Fed yang masih keras terhadap inflasi.

Dampaknya buat investor dan pasar Indonesia

Buat investor ritel di Indonesia, pergerakan ini penting karena harga emas domestik biasanya ikut merespons arah emas dunia dan dolar AS. Ketika emas global turun tipis, harga buyback dan harga jual di pasar lokal bisa ikut terseret, walau besarnya tergantung kurs rupiah dan kebijakan masing-masing penjual emas.

Artinya, pembeli emas fisik yang biasa menabung lewat gram-an perlu lebih cermat. Momen harga turun bisa menggoda, tapi kalau The Fed memberi sinyal suku bunga tetap tinggi, harga emas masih bisa tertahan. Sebaliknya, kalau notulen rapat bernada lebih dovish, pasar bisa cepat berbalik. Cepat sekali.

Untuk industri keuangan, sinyal ini juga memengaruhi strategi portofolio. Manajer investasi, trader komoditas, sampai bank yang memegang aset lindung nilai akan memantau apakah momentum emas masih kuat atau mulai kehilangan tenaga. Ketegangan di Selat Hormuz ikut menambah lapisan risiko karena lonjakan harga minyak bisa kembali mengerek kekhawatiran inflasi global.

China tetap beli, Hong Kong buka jalur baru

Di saat pasar menimbang arah jangka pendek, bank sentral China masih menambah cadangan emas. Pembelian emas oleh otoritas moneter negeri itu berlanjut selama 20 bulan berturut-turut. Cadangan emas China tercatat 75,44 juta troy ons murni pada akhir Juni, naik dari 74,96 juta pada bulan sebelumnya.

Hong Kong juga mengambil langkah strategis dengan meluncurkan sistem kliring pusat untuk emas dan menghidupkan kembali perdagangan berjangka emas. Langkah itu ditujukan untuk memperkuat posisi wilayah tersebut sebagai pusat cadangan regional logam mulia. Pasar Asia jelas tidak mau ketinggalan.

Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi pada perdagangan Senin setelah menyentuh level tertinggi dua pekan. Penguatan dolar AS jadi penekan utama, meski pelemahannya terbatas karena data lapangan kerja AS melemah dan pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

J.P. Morgan dalam laporan riset yang terbit Jumat menilai permintaan emas dari sejumlah sektor utama tidak akan sekuat perkiraan sebelumnya.

Bank investasi itu memperkirakan harga emas rata-rata berada di kisaran US$ 4.300 per ons pada kuartal III 2026, lalu naik ke US$ 4.500 per ons pada kuartal IV 2026. Pasar sekarang menunggu apakah risalah The Fed akan mendorong harga mendekati skenario itu, atau justru menahannya lebih lama.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda