KARANGANYAR — Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, menegaskan bahwa sinergi antara potensi kebudayaan lokal dan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) adalah pondasi utama dalam memperkokoh ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Integrasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga warisan nilai budaya di tengah arus globalisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Siti Fauziah saat menghadiri rangkaian pembinaan serta kurasi produk ekonomi kreatif di Desa Pabelan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Sabtu (11/7). Kegiatan ini merupakan langkah awal persiapan peluncuran Pasar Jadoel Reborn Sapta Tirta Pabelan, sebuah destinasi yang menggabungkan unsur wisata budaya dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
Strategi UMKM Naik Kelas
Bagi Siti Fauziah, UMKM memegang peranan krusial sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Namun, tantangan ke depan menuntut pelaku usaha untuk lebih adaptif.
Peningkatan kualitas produk, kejelasan legalitas, hingga inovasi pengemasan menjadi syarat mutlak agar produk lokal mampu menembus pasar internasional. Dia menekankan pentingnya adopsi pemasaran digital sebagai alat untuk memperluas jangkauan pasar.
“Produk-produk UMKM harus memiliki kualitas yang baik, legalitas yang jelas, kemasan yang menarik, serta mampu memanfaatkan pemasaran digital. Hal-hal tersebut kunci untuk bersaing di pasar nasional bahkan internasional,” ujar Siti dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/7).
Model Pembangunan Berbasis Masyarakat
Kenapa ini penting? Inisiatif seperti Pasar Jadoel Reborn dinilai sebagai prototipe ideal pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Dengan memadukan potensi budaya dan pariwisata, masyarakat lokal mendapatkan ruang untuk menggerakkan ekonomi tanpa harus kehilangan jati diri kearifan lokalnya.
Semangat gotong royong yang tertanam dalam model ini menjadi napas utama agar roda ekonomi di tingkat desa tetap berputar secara berkelanjutan.
Kehadiran pemimpin lembaga negara di level desa ini menunjukkan urgensi keterlibatan pemerintah dalam memvalidasi model pemberdayaan akar rumput. Dampak langsung bagi pelaku UMKM di Karanganyar tentu pada peningkatan nilai tawar produk mereka melalui proses kurasi yang terstruktur.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor ini memberikan harapan bagi daerah lain untuk mereplikasi konsep serupa dalam upaya percepatan pemulihan ekonomi di level daerah.
Siti Fauziah sendiri optimistis bahwa jika setiap daerah mampu menggali potensi khasnya dengan pendekatan kolaboratif, maka ketahanan ekonomi nasional secara keseluruhan akan semakin kokoh. Ke depan, tantangannya adalah bagaimana konsistensi pelaku usaha dalam menjaga kualitas pasca-peluncuran agar kepercayaan konsumen tetap terjaga dalam jangka panjang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.