Jumat, 17 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Kemenpora Geber Kaderisasi Pelatih Disabilitas di Majalengka Demi Akses Olahraga Merata

Kemenpora Geber Kaderisasi Pelatih Disabilitas di Majalengka Demi Akses
Foto: sumber resmi pemerintah

Sebanyak 22,9 juta penyandang disabilitas di Indonesia kini menjadi fokus utama pemerintah untuk mendapatkan kesetaraan akses berolahraga. Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) menggelar pelatihan intensif bertajuk “Berdaya” di Hotel Fitra, Majalengka, Jawa Barat, untuk mencetak agen perubahan di tingkat akar rumput.

Langkah ini diambil karena data partisipasi olahraga penyandang disabilitas masih sangat rendah. Saat ini, hanya 11,6 persen dari total populasi tersebut yang aktif melakukan aktivitas fisik. Angka ini menjadi alarm keras bagi ekosistem olahraga nasional. Kesenjangan akses, minimnya fasilitas, hingga kelangkaan tenaga kepelatihan yang kompeten menjadi dinding penghalang yang harus diruntuhkan segera.

Plt. Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Kemenpora, Ahmad Arsani, membuka kegiatan pada Kamis (16/7) siang dengan nada tegas. Ia menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar formalitas sertifikasi. Program ini merupakan mesin penggerak untuk melahirkan mentor-mentor yang mampu menyentuh penyandang disabilitas di pelosok daerah. Arsani melihat bahwa tanpa adanya pelatih yang paham cara menangani kebutuhan khusus, impian untuk menjadikan olahraga sebagai gaya hidup inklusif akan sulit terwujud.

Kondisi lapangan saat ini memang cukup menantang. Jumlah tenaga kepelatihan yang tersedia masih jauh dari kata ideal. Kemenpora mencoba memecahkan kebuntuan ini melalui pendekatan “Berdaya”. Fokusnya jelas: memindahkan pusat pengembangan dari kota besar ke daerah-daerah melalui kaderisasi pelatih lokal. Strategi ini diharapkan mampu menciptakan efek domino. Ketika satu pelatih terlatih di satu desa, mereka bisa merangkul puluhan penyandang disabilitas untuk mulai bergerak.

Diskusi di Hotel Fitra siang itu mengalir cukup intens. Para peserta yang hadir tidak hanya belajar teori teknis, tetapi juga diajak memahami filosofi inklusivitas. Olahraga bukan lagi sekadar ajang kompetisi, melainkan hak asasi bagi setiap warga negara tanpa memandang kondisi fisik. Pemerintah sadar betul bahwa membangun ekosistem yang berkeadilan membutuhkan waktu dan konsistensi.

Di luar isu disabilitas, Kemenpora juga terus memacu prestasi atlet di kancah internasional. Belum lama ini, Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga, Surono, menyambut kepulangan tim nasional panjat tebing yang baru saja berlaga di World Climbing Series. Atlet-atlet seperti Desak Made disambut hangat di Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (14/7) sore. Keberhasilan mereka menjadi bukti nyata bahwa dukungan pemerintah terhadap prestasi olahraga tidak pernah surut.

Sinergi antara pembinaan di akar rumput dan dukungan untuk atlet elit ini menjadi dua sisi mata uang yang sama. Kemenpora ingin memastikan bahwa dari tingkat desa hingga panggung dunia, tidak ada lagi sekat yang membatasi potensi anak bangsa. Program-program lain pun terus berjalan secara paralel. Mulai dari ajakan hidup sehat bagi kalangan pensiunan melalui program Rabu Bugar, hingga konsentrasi pada isu kepemudaan yang menjadi sorotan Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir.

Menpora Erick bahkan telah menekankan pentingnya mengatasi tantangan bonus demografi. Ia ingin agar potensi pemuda tidak terbuang percuma akibat kurangnya wadah pengembangan. Melalui berbagai agenda strategis seperti Wirasena Youth Camp dan Indonesia Youth Summit, pemerintah berupaya melahirkan pemimpin masa depan yang tangguh dan adaptif.

Kembali ke Majalengka, pelatihan ini diharapkan menjadi mercusuar bagi daerah lain. Jika model “Berdaya” berhasil meningkatkan partisipasi olahraga secara signifikan di Jawa Barat, Kemenpora berencana mereplikasi skema ini ke skala nasional. Tantangan terbesar ke depan adalah menjaga keberlanjutan para pelatih yang telah dikader. Mereka bukan hanya pengajar, tapi juga ujung tombak pembudayaan olahraga di masyarakat.

Kehadiran para penggerak ini nantinya akan dipantau secara berkala. Kemenpora tidak ingin program ini berhenti setelah seremonial penutupan. Evaluasi akan dilakukan untuk melihat seberapa besar dampak nyata dari pelatihan tersebut terhadap peningkatan jumlah penyandang disabilitas yang rutin berolahraga.

Langkah berikutnya bagi Kemenpora adalah memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah. Sinergi lintas sektoral sangat krusial untuk menyediakan fasilitas pendukung yang ramah disabilitas di setiap fasilitas olahraga umum. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, kerja keras para pelatih di lapangan akan terasa pincang. Kemenpora kini tengah memetakan kembali kebutuhan sarana olahraga khusus di berbagai titik agar program inklusivitas ini benar-benar terasa manfaatnya bagi masyarakat luas.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda