Sabtu, 18 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Review The Odyssey: Epik Nolan yang Indah, Aneh, dan Cacat

Review The Odyssey menampilkan dunia epik dan visual menawan
Adegan-adegan The Odyssey disebut memadukan visual megah dan suasana yang ganjil. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Review The Odyssey memotret film terbaru Christopher Nolan sebagai karya yang besar, ganjil, dan memikat sekaligus. Di satu sisi, film ini menampilkan citra Yunani kuno yang lembap, keras, dan menekan; di sisi lain, pilihan aksen Amerika serta casting lintas ras membuatnya terasa sangat modern sejak menit awal.

Itu bukan cuma soal gaya. Film yang diadaptasi dari epos Homer ini sudah memicu perdebatan jauh sebelum penonton umum duduk di kursi bioskop. Namun, dari bahan ulasan yang beredar, satu hal tampak jelas: Nolan tidak sedang membuat museum sejarah. Ia sedang membangun dunia mitologi yang hidup, tak nyaman, dan sengaja mengganggu.

Review The Odyssey dan pilihan yang bikin film terasa hidup

Hal pertama yang langsung terasa dari Review The Odyssey adalah suara para tokohnya. Alih-alih meniru aksen British yang kerap diasosiasikan dengan film sejarah besar, Nolan memilih nada bicara Amerika yang lebih akrab. Kata “dad” dan “mom” muncul di tengah dunia kuno, terdengar janggal pada awalnya, lalu justru memberi jarak yang menarik dari kesan teatrikal berlebihan.

Keputusan itu penting karena mengubah cara penonton mendengar para tokoh. Mereka tidak terdengar seperti patung marmer yang bicara. Mereka terdengar seperti manusia, dengan emosi yang kasar dan relasi keluarga yang terasa dekat.

Ulasan The Hollywood Reporter menilai pendekatan ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari visi Nolan untuk membuat tokoh-tokohnya terasa nyata, bukan sekadar figur mitologis.

Matt Damon, menurut ulasan yang sama, tampil kuat sebagai Odysseus. Perannya disebut sebagai salah satu penampilan terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir. Itu masuk akal, mengingat karakter ini memang menjadi pusat beban film: pulang, kehilangan, perang, dan ingatan yang terus terganggu.

Visual megah, tapi tidak selalu nyaman ditonton

Bagian paling mencolok dari film ini justru datang dari gambarnya. Dalam satu adegan yang disorot ulasan, sekelompok lelaki kelaparan makan dengan buas di sebuah gubuk tua di pulau kelabu, sementara seorang perempuan perlahan mengubah mereka menjadi sosok yang semakin liar.

Momen itu disebut sangat mengganggu, tetapi sekaligus indah. Nolan tampaknya sengaja menautkan keindahan dan kengerian dalam satu bingkai.

Republika mencatat produksi The Odyssey memakai 2,1 juta kaki film IMAX dan digarap di enam negara, termasuk Maroko, Yunani, Italia, Islandia, Skotlandia, serta Amerika Serikat. Tempo juga menulis bahwa film ini menjadi proyek fitur pertama Nolan yang sepenuhnya direkam dengan kamera IMAX. Angka-angka itu menjelaskan kenapa skala filmnya terasa begitu besar di atas kertas maupun di layar.

Tempo menambahkan bahwa produksi memakai lebih dari 600 kilometer stok film selama 91 hari syuting. Itu bukan detail kecil. Bagi penonton, cara kerja seperti ini berarti pengalaman visual yang sangat padat, dengan lanskap laut, benteng, dan ruang-ruang mitologis yang punya bobot fisik. Kamera tidak sekadar merekam, tapi seolah ikut mengangkut tubuh penonton ke dunia film.

Cast lintas ras, debat panas, dan tafsir yang lebih luas

Sebagian kritik terhadap film ini datang dari pilihan pemain. Lupita Nyong’o muncul sebagai Helen, Travis Scott tampil singkat sebagai penyair, Corey Hawkins memerankan salah satu pelamar, dan Elliot Page hadir sebagai Sinon.

Dalam bahan ulasan, keberagaman itu sempat dipersoalkan oleh sebagian warganet, termasuk Elon Musk. Tapi tudingan paling keras tampaknya bukan soal “Yunani atau tidak Yunani”; yang lebih kental justru keberatan atas komposisi aktor non-kulit putih.

Di sini, Review The Odyssey memberi konteks yang lebih tajam. Epos Homer sudah melewati 2.700 tahun interpretasi, perpindahan lisan ke tulisan, lalu ke panggung, buku, dan layar lebar. Adaptasi seperti ini tidak hidup dari kemiripan literal, melainkan dari kemampuan menangkap ruh cerita.

Dan dari sudut itu, pilihan casting Nolan terlihat lebih dekat ke pendekatan warna-buta ketimbang pernyataan politik yang dipaksakan.

Ulasan utama juga menekankan bahwa film ini tidak sedang mengajukan slogan sosial modern. Kritik terhadap perang, kesombongan, dan putusnya tradisi justru datang dari inti kisah Homer sendiri. Jadi ketika debat online memaksa film ini masuk ke perang budaya kontemporer, ada risiko pembicaraan melebar jauh dari apa yang benar-benar dikerjakan Nolan di layar.

Bagi penonton di Indonesia, dampaknya cukup jelas. Film seperti ini biasanya tidak cuma dinilai dari cerita, tapi juga dari pengalaman menonton di layar terbesar yang tersedia.

Produksi IMAX, skala lokasi internasional, dan pendekatan visual yang sangat fisikal membuat The Odyssey berpotensi jadi rujukan baru untuk film epik modern, terutama saat bioskop lokal terus berlomba menawarkan format premium.

Di titik itu, yang paling menarik justru bukan apakah film ini sempurna. Nolan sendiri jarang membuat film yang serba rapi. Yang lebih penting, dari berbagai ulasan yang muncul, The Odyssey tampak berhasil melakukan satu hal yang sulit: membuat epos ribuan tahun terasa asing, hidup, dan tetap relevan untuk diperdebatkan hari ini.

Republika menyebut produksi film ini menggunakan 2,1 juta kaki film IMAX, sementara Tempo menulis angka lebih dari 600 kilometer stok film selama 91 hari syuting. Skala itu sudah cukup memberi gambaran bahwa Nolan tidak datang dengan proyek kecil.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda