JAKARTA — The F Ward datang dengan taruhannya jelas: serial ini bukan cuma drama rumah sakit, tapi juga panggung kebangkitan Ioane Sa’ula yang sempat hampir menutup mimpi jadi atlet profesional setelah cedera parah saat remaja.
Dalam cerita yang dilaporkan ABC News, aktor Australia-Samoa itu kini memimpin drama medis baru Stan yang memadukan ketegangan, humor, dan kisah para intern yang sama-sama masih berantakan.
Sa’ula, yang besar di Canberra, awalnya yakin hidupnya akan berputar di lapangan rugby league. Sejak usia tujuh tahun ia bermain setiap pekan, sampai tibia dan fibulanya patah saat berumur 13 tahun.
Cedera itu memicu infeksi staph, memaksanya menjalani delapan operasi dan sekitar tiga bulan perawatan di rumah sakit. Karier olahraganya berhenti dua tahun. Di masa pemulihan itulah guru bahasa Inggrisnya menyarankan ia mencoba akting.
Tak lama kemudian, Sa’ula mendapat peran Gomez dalam pementasan sekolah The Addams Family. Dari sana, jalannya berubah cepat. Saat masih SMA, ia rajin menyisir halaman casting Facebook hingga akhirnya lolos audisi untuk Bump, drama komedi-remaja Stan yang kemudian membuat namanya dikenal. “Sejak itu, [saya mengejar] mimpi menjadi aktor,” ujarnya.
The F Ward dan nuansa Grey’s Anatomy yang lebih Australia
Di The F Ward, Sa’ula berperan sebagai Jimmy, salah satu intern yang masuk ke dunia rumah sakit bersama Ellie yang diperankan Lola Bond, Josh oleh Alex Fitzalan, Yosef oleh Rishab Kern, Ava oleh komika Annie Boyle, dan Lisa oleh Emily Barclay, seorang mantan perawat yang membagi waktu antara pelatihan dan peran sebagai ibu.
Mereka dibimbing Dr Wall yang dimainkan Anna Friel, Dr Parker oleh Dan Wyllie, dokter kandungan Dr Matessi oleh Susie Porter, serta ahli bedah “rockstar” Dr Friedman yang diperankan Jeremy Sims.
Dan Edwards, produser sekaligus co-creator serial itu, menyebut ada percampuran rasa di sana. Sedikit Grey’s Anatomy lewat kehidupan pribadi para dokter yang berantakan. Ada semangat hangat ala Scrubs. Lalu sentuhan getir seperti The Pitt, yang menyorot tekanan nyata di dunia medis. Tapi serial ini tetap jelas berwarna Australia, dengan nada ringan yang juga pernah terasa di Bump dan Year Of.
“Ada kegelapan dan humor,” kata Edwards. “Tapi saya pikir secara umum [orang Australia] itu optimistis dan hangat. Kalau Anda melakukan sesuatu dengan jujur dan tidak terlalu serius pada diri sendiri, itu muncul. Itulah ke-Australia-an [serial ini].”
Dari ruang gawat ke drama karakter
Edwards sebenarnya sudah lama ingin memberi proyek utama kepada Sa’ula. Ia bahkan memikirkan aktor itu sejak pertama kali menggarap Bump. Saat pengembangan The F Ward dimulai sekitar 2019, Sa’ula memang masih terlalu muda untuk peran yang dibayangkan. Edwards tak masalah.
“Kami selalu membayangkan Ioane sebagai pemeran romantis utama,” ujarnya. “Waktu itu dia masih terlalu muda, jadi kami berpikir, dia bisa memerankan yang lebih tua.”
Serial ini juga berubah bentuk berkali-kali. Naskah sempat berpindah dari satu jaringan ke jaringan lain, dari satu tim penulis ke tim berikutnya. Ada versi awal yang pernah dipitch sebagai “Secret Life of Us di rumah sakit”.
Pada tahap akhir, wujudnya bergeser menjadi lebih dekat ke Slow Horses: kumpulan orang gagal yang berkumpul di satu tempat dan dipaksa bekerja bersama dalam situasi yang jauh dari ideal.
“Mereka adalah individu-individu cacat yang gagal di tahun pertama bukan karena membunuh seseorang — itu bukan alasan gagal, mereka semua pada suatu titik akan tanpa sengaja membunuh seseorang — melainkan karena rapuh secara personal,” kata Edwards. Karena itu, ia menyebut The F Ward lebih sebagai studi karakter ketimbang drama medis yang hanya mengejar kasus per episode.
Rumah sakit rusak, sistem kesehatan ikut disorot
Set nyata serial ini juga dibangun untuk memperkuat cerita. Lokasinya terinspirasi dari bangunan utama lama Mona Vale Hospital yang sudah dibongkar. Edwards menggambarkannya sebagai rumah sakit tua yang reyot, berdiri di atas lapangan golf, dengan kabel melintang di lantai dan lift yang bergetar.
Karena tak bisa syuting di sana, tim produksi memilih bekas pabrik kosmetik Avon bergaya Brutalist di wilayah Northern Beaches, Sydney.
Di titik ini, The F Ward punya dampak yang terasa lebih luas dari sekadar tontonan. Serial ini ikut menyorot sistem kesehatan Australia yang menurut Edwards sedang tertekan dan kekurangan dana, meski tetap kuat.
Ia juga menyinggung hilangnya rumah sakit-rumah sakit suburban, padahal tempat seperti itu selama ini jadi lokasi penting bagi banyak intern untuk menjalani pelatihan.
Bagi penonton, lapisan ini penting karena membuat drama medisnya tidak cuma memancing emosi, tapi juga memberi gambaran tentang betapa beratnya pekerjaan tenaga kesehatan saat fasilitas publik terus diperas.
Edwards bahkan merasakan langsung kerasnya sistem itu saat syuting tahun lalu, ketika kecelakaan berselancar membuatnya harus masuk unit gawat darurat.
“Yang terutama menjelaskan itu adalah Anna Friel tidak perlu memakai aksen Australia karena semua orang yang saya lihat berasal dari Inggris,” katanya sambil tertawa. Dari situ, The F Ward seperti mengunci pesan utamanya: rumah sakit di serial ini memang fiksi, tapi tekanannya terasa sangat nyata.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.