JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Polymarket 2026 mencatat lonjakan besar saat volume gabungan dengan Kalshi naik dari $5 Miliar Sep 2025 menjadi $24 Miliar April 2026, lalu tembus $45 Miliar pada Juni 2026.
Kenaikan itu datang saat FIFA World Cup 2026 mendorong aktivitas pasar prediksi, tetapi pada saat yang sama tekanan regulasi juga menguat di sejumlah negara dan wilayah. Platform berbasis crypto ini jadi sorotan karena menggabungkan taruhan hasil peristiwa, data, dan spekulasi pasar dalam satu tempat.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Apa itu Polymarket 2026
Polymarket adalah pasar prediksi terdesentralisasi. Pengguna bisa memasang posisi pada hasil sebuah kejadian memakai crypto, biasanya USDC. Pasarnya luas, dari juara Piala Dunia, harga saham IPO SpaceX, sampai apakah sebuah RUU akan disahkan.
Platform ini disebut legal beroperasi di AS setelah mendapat lisensi Designated Contract Market dari CFTC pada Juli 2025. Dalam perkembangannya, Polymarket juga beroperasi di bawah pengawasan CFTC sejak beta Desember 2025.
Di AS, akses pengguna di negara bagian yang legal juga berubah. Sejak 13 Mei 2026, Polymarket tidak lagi memakai waitlist dan pengguna bisa langsung mendaftar.
Data terbaru Polymarket 2026
Lonjakan volume menjadi penanda paling jelas. Dari data yang tersedia, pasar gabungan Polymarket dan Kalshi naik tajam hanya dalam beberapa bulan, lalu mencapai level tertinggi pada Juni 2026. Pasar juara World Cup saja disebut sudah mencapai $832 juta.
Pendapatan tahunan Polymarket juga disebut sudah melampaui $1 Miliar. Di sisi valuasi, perusahaan itu diproyeksikan mencapai $20 Miliar pada Maret 2026. Angka-angka ini menunjukkan minat pasar yang jauh melampaui sekadar tren sesaat.
Penggerak utamanya bukan cuma sepak bola. Pasar primer midterm AS ikut menyumbang pergerakan besar. Kombinasi event global dan politik membuat volume transaksi terus naik, dan Polymarket 2026 ikut terdorong ke level yang belum pernah tercapai sebelumnya.
Fitur baru dan arah bisnis
Polymarket tidak berhenti di perdagangan prediksi. Platform ini meluncurkan Polymarket USD, stablecoin sendiri yang disiapkan untuk menggantikan USDC dan menekan biaya gas.
Di jalur bisnis yang lebih serius, Polymarket juga mengajukan diri menjadi Futures Commission Merchant ke NFA untuk menyediakan leverage. Di saat yang sama, perusahaan mengalihkan fokus ke aplikasi iOS dan Android demi kepatuhan geolokasi di AS.
Langkah lain yang menarik datang lewat integrasi MLS, ketika data trading real-time dimasukkan ke siaran Apple TV untuk menampilkan probabilitas menang. Polymarket juga mengakuisisi Brahma, startup DeFi, untuk menyederhanakan crypto plumbing.
Regulasi jadi penentu
Meski tumbuh cepat, Polymarket 2026 menghadapi hambatan yang tak kecil. Prancis memblokir platform itu pada 16 Juli 2026 dengan alasan judi ilegal dan rawan manipulasi, termasuk pada taruhan cuaca. India juga memblokirnya pada Mei 2026 dengan klasifikasi online money gaming terlarang.
Di New York, subkomite Senat majuin RUU untuk melarang beberapa prediction market. CFTC pun menyorot risiko insider trading setelah menuntut seorang insinyur Google terkait pasar Year in Search senilai $1.2 juta.
Bagi pengguna dan industri, dampaknya jelas. Platform semacam ini bisa memberi ruang baru bagi spekulasi berbasis peristiwa, tapi aksesnya sangat bergantung pada aturan tiap negara. Satu keputusan regulator saja cukup untuk mengubah aliran trafik, likuiditas, dan minat trader dalam hitungan hari.
Presiden Trump menyatakan kewenangan eksklusif CFTC atas prediction market sangat penting untuk dijaga. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa nasib Polymarket 2026 bukan cuma ditentukan minat pasar, tapi juga tarik-menarik kewenangan di level regulator.
Disclaimer: Artikel ini untuk informasi edukasi. Trading di Polymarket mengandung risiko. Patuhi hukum di negara Anda.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.