Dari perspektif ekonomi makro, Wakil Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Dr. Handi Rizsa, M.Ec., memaparkan risiko hilangnya pekerjaan konvensional akibat otomatisasi. Ia mendesak rekonstruksi kurikulum perguruan tinggi secara masif.
“Pergeseran ekonomi berbasis AI menuntut transformasi total kurikulum. Jika tidak diselaraskan dengan kebutuhan industri masa depan, risiko pengangguran intelektual akan meningkat. Pendidikan harus diarahkan pada fleksibilitas keahlian dan penguatan integritas berbasis nilai kemodernan serta kebangsaan,” tegas Handi.
Peran Guru Berubah Menjadi Fasilitator
Kepala SMAN 7 Bekasi, Drs. Fajar Heryadi Trimawardi, M.Pd., menilai siswa tingkat menengah paling rentan terpapar dampak negatif teknologi tanpa bimbingan tepat. Ia mengapresiasi kolaborasi ini sebagai acuan nyata bagi sekolah.
“Kini guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu, melainkan fasilitator yang mengarahkan siswa memanfaatkan teknologi secara bijak. Seminar ini menjadi panduan strategis bagi kami mendesain pembelajaran sejak dini,” ungkap Fajar.
Penanggung Jawab Acara sekaligus Direktur Pemasaran dan Beasiswa Universitas Paramadina, Dr. Peni Hanggarini, S.IP., M.A., menyampaikan aspirasi dari berbagai pihak dalam forum ini akan dirangkum menjadi draf rekomendasi kebijakan strategis untuk pengembangan pendidikan nasional di tengah era kecerdasan buatan.
FAQ (Pertanyaan Umum)
1. Kapan dan di mana seminar ini dilaksanakan?
Berlangsung pada 18 Juli 2026 di Auditorium Firmanzah, Kampus Universitas Paramadina Cipayung, Jakarta Timur.
2. Siapa saja pembicara dalam kegiatan ini?
Hadir Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Wakil Rektor Universitas Paramadina, pengamat ekonomi INDEF, dosen, serta kepala sekolah menengah.
3. Apa inti rekomendasi utama dari seminar ini?
Perlunya pemerataan akses digital, pembaruan kurikulum, perubahan peran pendidik, serta penyeimbangan penguasaan teknologi dengan nilai etika dan kemanusiaan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.