Jumat, 24 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Diskusi Publik: Perkuat Ekosistem, Kunci Indonesia Jadi Pemimpin Ekonomi Halal Dunia

Suasana diskusi publik Masa Depan Ekonomi Halal RI di Kampus Universitas Paramadina Cipayung, Jakarta, Rabu 22 Juli 2026
Suasana diskusi publik Masa Depan Ekonomi Halal RI di Kampus Universitas Paramadina Cipayung, Jakarta, Rabu 22 Juli 2026.

JAKARTA, JOURNALARTA.COMUniversitas Paramadina bersama Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF menggelar diskusi publik bertajuk “Masa Depan Ekonomi Halal RI” di Kampus Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta, Rabu (22/7/2026). Kolaborasi strategis ini menyoroti langkah konkret untuk mendorong posisi Indonesia agar tidak sekadar menjadi pasar konsumen, melainkan bertransformasi menjadi pusat produksi halal di tingkat global.

Penurunan peringkat Indonesia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2025/2026 menjadi alarm keras bagi industri syariah nasional. Berada di peringkat keempat setelah turun satu tingkat dari tahun sebelumnya, Indonesia menghadapi tantangan besar karena populasi muslim yang melimpah belum berhasil dikonversi menjadi kekuatan produsen utama dunia.

Tantangan Indonesia di Tengah Potensi Ekonomi Halal Global

Data GIEI 2025/2026 mencatat nilai ekonomi halal dunia telah menembus angka USD2,6 triliun pada tahun 2024. Nilai ini diproyeksikan akan terus melonjak tajam hingga menyentuh USD3,56 triliun pada tahun 2029 mendatang.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia, situasi ini membawa dampak langsung pada daya saing produk lokal di pasar sendiri maupun global. Jika ekosistem domestik tidak segera dibenahi, pasar Indonesia yang bernilai tinggi akan terus dibanjiri oleh produk halal impor dari negara lain yang memiliki infrastruktur industri lebih siap.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menegaskan pentingnya keterlibatan dunia akademik untuk menyokong ekosistem syariah nasional secara berkelanjutan.

“Universitas Paramadina telah memiliki Program Magister Manajemen Keuangan Syariah dan Program Doktor Manajemen Keuangan Syariah yang akan terus dikembangkan sebagai kontribusi nyata bagi ekosistem nasional. Selain itu, wakaf Kampus Cikarang beserta tiga gedungnya dari Bapak Arsjad juga merupakan wujud nyata penerapan nilai ekonomi syariah,” kata Didik.

Tiga Pilar Utama Membenahi Tata Kelola Syariah

Wakil Ketua CSED INDEF, Dr. Handi Risza, memaparkan bahwa pangsa pasar keuangan syariah Indonesia saat ini masih tertahan di kisaran 7 persen. Angka tersebut dinilai sangat minim jika dibandingkan dengan potensi riil nasional, ditambah lagi aspek tata kelola keuangan syariah Indonesia masih tertinggal jauh di peringkat ke-16 dunia.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Handi menawarkan solusi melalui tiga pilar utama yang disebut CGI:

  • Capital: Mendorong inovasi dan variasi produk keuangan syariah agar sekompetitif negara tetangga seperti Malaysia.
  • Governance: Memperbaiki regulasi, memperkuat kelembagaan, serta menyinkronkan koordinasi antarinstitusi negara.
  • Inclusivity: Memperluas dampak ekonomi syariah ke sektor riil melalui optimalisasi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF).
Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda