JAKARTA — budaya healing makin lekat dengan keseharian Gen Z, terutama saat tugas kuliah, pekerjaan, dan rutinitas menumpuk. Dalam tulisan Meilie Tampubolon yang terbit pada 21 Juli 2026, healing digambarkan bukan sekadar tren media sosial, melainkan respons atas tekanan hidup yang terasa makin nyata.
Kalimat seperti “Healing dulu, nanti lanjut lagi.” sudah akrab di telinga banyak anak muda. Unggahan tentang pergi ke tempat wisata, nongkrong di kafe, menonton konser, atau sekadar menikmati waktu sendiri juga sering muncul dengan tagar healing dan self-care.
Budaya healing dan cara Gen Z memaknai jeda
Di tulisan itu, Meilie menyebut tren healing yang makin sering terlihat bukan semata karena ikut-ikutan. Ia melihat ada kesadaran yang tumbuh di kalangan anak muda bahwa kesehatan mental itu penting. Dulu, orang yang mengeluh lelah atau stres sering dianggap terlalu berlebihan. Sekarang, makin banyak yang berani mengakui bahwa mereka butuh waktu untuk beristirahat dan menenangkan diri.
Pergeseran ini penting. Bagi Gen Z, healing tidak lagi selalu dimaknai sebagai liburan panjang atau pengeluaran besar. Ada yang memilih jalan sore, membaca buku, menonton film favorit, tidur lebih lama di akhir pekan, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman dekat. Cara-cara sederhana itu tetap bisa memberi ruang bagi pikiran untuk pulih.
Di titik ini, budaya healing tampak punya dua wajah. Ia bisa menjadi ruang aman untuk berhenti sejenak. Tapi ia juga bisa berubah menjadi label yang ditempel ke hampir semua kebutuhan istirahat, tanpa benar-benar menjawab akar lelahnya.
Kenapa makna healing ikut bergeser
Meilie menulis bahwa banyak orang kini menganggap healing harus identik dengan tempat yang estetik, kafe yang sedang viral, atau membeli barang sebagai bentuk reward. Padahal, menurutnya, healing sebenarnya tidak harus mahal. Yang terpenting bukan tempatnya, melainkan apakah kegiatan itu benar-benar membuat pikiran lebih baik.
Pandangan itu nyambung dengan cara media sosial bekerja. Saat unggahan soal liburan, konser, atau nongkrong tampil terus-menerus, standar tentang “istirahat yang layak” ikut terdorong naik. Akhirnya, jeda yang sederhana bisa terasa kurang dianggap, padahal justru di situlah banyak orang menemukan napas baru.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.