Soal ini penting karena budaya healing bukan cuma urusan gaya hidup. Ia ikut memengaruhi cara anak muda menilai dirinya sendiri. Kalau healing selalu dipatok harus tampak menarik di kamera, maka istirahat berubah jadi tontonan. Bukan lagi pemulihan.
Risiko saat healing berubah jadi alasan menunda
Di bagian lain, Meilie juga memberi catatan tegas: healing tidak sebaiknya dipakai untuk menghindari tanggung jawab. Ia menyinggung candaan yang sering muncul di media sosial, seperti “healing dulu, tugas belakangan”. Lucu di permukaan, tapi bisa jadi kebiasaan yang kurang baik kalau terus diulang.
Masalah tidak hilang hanya karena seseorang pergi berlibur. Setelah kembali, tugas dan tanggung jawab tetap menunggu untuk diselesaikan. Di sini, healing kehilangan fungsinya kalau hanya menjadi jeda tanpa arah. Istirahat memang perlu, tapi pelarian berkepanjangan justru menambah beban baru.
Itulah alasan kenapa perbincangan soal budaya healing tidak bisa dibaca hitam-putih. Ada kebutuhan nyata untuk berhenti sejenak. Ada pula risiko ketika jeda itu dipakai untuk terus menunda hal yang mestinya dihadapi.
Tekanan yang dialami Gen Z
Meilie menulis bahwa wajar jika banyak Gen Z merasa mudah lelah. Selain menghadapi tuntutan kuliah atau pekerjaan, mereka juga hidup di era media sosial yang membuat orang mudah membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Hampir setiap hari ada unggahan tentang pencapaian, liburan, atau kesuksesan orang lain. Tanpa disadari, arus seperti ini bisa membuat seseorang merasa tertinggal atau tidak cukup baik. Dari situ, kebutuhan untuk berhenti sejenak jadi semakin masuk akal. Bukan karena manja. Karena kepala memang penuh.
Di Indonesia, cara pandang seperti ini terasa dekat dengan banyak anak muda yang terus berpacu dengan tugas, target, dan tampilan diri di media sosial. Maka, ketika istilah healing muncul, ia langsung menemukan tempat. Mudah dipahami. Mudah dipakai. Dan sering kali, sangat dekat dengan realitas harian.
Yang menarik, tulisan Meilie tidak menempatkan healing sebagai musuh. Ia justru melihatnya sebagai strategi bertahan di tengah kehidupan yang semakin penuh tekanan, selama dilakukan dengan bijak. Beristirahat bukan berarti menyerah, melainkan memberi diri sendiri kesempatan untuk mengambil napas sebelum melanjutkan perjalanan.
Di ujung tulisannya, pesan itu tetap terasa kuat: bukan seberapa sering seseorang pergi healing yang paling penting, melainkan apakah setelah itu ia benar-benar lebih siap menghadapi tantangan yang ada. Dan di tengah tekanan yang terus datang, ukuran kesiapan seperti itu sering kali jauh lebih berharga daripada sekadar foto liburan yang ramai di linimasa.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.