YOGYAKARTA — Dua puluh tujuh siswa SMP Negeri 3 Wates, Kabupaten Kulonprogo, dirawat di Puskesmas Wates setelah mengalami gejala gangguan pencernaan yang muncul hampir bersamaan pada Selasa (21/7/2026). Keluhan mereka berkisar dari diare, mual, muntah, nyeri perut hingga demam.
Semua siswa yang sakit itu baru saja mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan di sekolah. Kondisi serupa pada puluhan anak dalam waktu singkat memicu kecurigaan bahwa makanan sekolah menjadi sumber masalah.
Data Puskesmas Wates mencatat 27 siswa yang menjalani perawatan, terdiri atas 11 perempuan dan 16 laki-laki. Kepala Puskesmas Wates, Salamah Sri Nurhayati, menyebut gejala yang ditunjukkan anak-anak sangat serupa satu sama lain.
“Gejalanya anak-anak hampir semuanya diare, muntah ada yang mual nyeri perut sampai ada juga yang demam,” kata Salamah kepada wartawan, Selasa.
Petugas kesehatan langsung melakukan pemeriksaan fisik dan memberikan obat-obatan untuk meredakan gejala. Lebih penting, mereka mengambil sampel muntahan dan tinja dari sejumlah siswa untuk diperiksa di laboratorium. Langkah ini dilakukan untuk memastikan penyebab sebenarnya—apakah infeksi bakteri, virus, atau faktor lain.
Kesamaan Makanan Jadi Indikasi Awal
Hasil penelusuran awal menunjukkan hal menarik: semua 27 siswa yang sakit memiliki riwayat konsumsi makanan yang sama. Puskesmas belum bisa menyimpulkan ini keracunan makanan sebelum ada hasil resmi laboratorium, namun kesamaan itu menjadi fokus investigasi.
“Dari hasil anamnesa kami, ada kesamaan makanan yang dikonsumsi oleh 27 anak ini, yaitu makanan dari program MBG. Kami belum dapat menyimpulkan ini keracunan sebelum ada hasil resmi dari pemeriksaan laboratorium. Untuk saat ini statusnya masih kejadian diduga gangguan pencernaan,” ujar Salamah.
Salah satu siswa, Ozil Danesh, menceritakan pengalamannya. Setelah makan menu MBG yang terdiri atas ayam asam manis, sayuran, tahu, dan buah, dia mulai merasa pusing dan mual. Waktu itu sekitar jam 5 sore, dan mual itu berlanjut hingga dia dirawat.
Yang lebih mencurigakan, Ozil menemukan tekstur ayam yang keras dan mencium aroma tidak sedap saat menyantap makanan tersebut. “Ayam yang diterimanya saat itu terasa berbeda dari biasanya,” katanya. Detail ini kini menjadi salah satu fokus penyelidikan pihak terkait.
Pemasok Makanan Mulai Investigasi
Program MBG di SMPN 3 Wates disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni. Penanggung jawab SPPG Karangwuni, Ari, membenarkan pihaknya menjadi pemasok makanan untuk sekolah tersebut namun belum dapat memastikan apakah keluhan kesehatan siswa berkaitan dengan makanan yang disajikan.
“Saya baru dapat informasi ada kejadian, diinvestigasikan terlebih dahulu,” ujar Ari.
Investigasi yang melibatkan Puskesmas Wates, pihak sekolah, dan pemasok makanan masih berlangsung. Sampel yang diambil akan memberikan jawaban definitif dalam beberapa hari ke depan—apakah ini masalah penyimpanan, proses memasak, atau kontaminasi lain saat persiapan makanan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.