JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Bank Indonesia terus memperkuat likuiditas pasar uang untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Langkah taktis ini dijalankan demi memastikan roda perekonomian domestik tetap berputar kencang dan kebutuhan pendanaan perbankan terpenuhi dengan baik.
Intervensi bank sentral ini berdampak langsung pada kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat dan sektor riil. Ketika likuiditas perbankan berada dalam kondisi yang aman, potensi kemacetan penyaluran modal usaha dapat dihindari, sehingga pelaku industri di Indonesia tetap bisa melakukan ekspansi tanpa khawatir kesulitan likuiditas.
Lelang Repo dan Pembelian SBN Rp188,68 Triliun
Guna mencapai target kecukupan likuiditas pasar uang tersebut, Bank Indonesia mengandalkan dua instrumen utama secara simultan. Pertama, BI membuka window lelang instrumen repo bagi perbankan dengan variasi tenor yang mencakup jangka waktu 3, 6, 9, hingga 12 bulan.
Kedua, BI aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN). Total pembelian SBN dari awal tahun 2026 sampai dengan tanggal 21 Juli 2026 telah menembus angka fantastis Rp188,68 triliun. Dari total dana jumbo tersebut, pembelian SBN di pasar sekunder tercatat sebesar Rp76,62 triliun.
Uang Primer M0 Tumbuh Tinggi 14,1 Persen
Guyuran likuiditas dari bank sentral ini terbukti ampuh mendongkrak jumlah uang primer (M0) di tanah air. Pada Juni 2026, uang primer melesat tumbuh tinggi hingga mencapai 14,1 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka pertumbuhan double digit ini mencerminkan ketersediaan dana segar yang sangat memadai di sistem keuangan.
Pertumbuhan ini ditopang oleh dua komponen utama yang bergerak selaras pada Juni 2026. Untuk melihat rincian pertumbuhan komponen uang primer tersebut, datanya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
| Komponen Uang Primer (M0) | Pertumbuhan Juni 2026 (yoy) |
|---|---|
| Uang Kartal | 14,0% |
| Giro Bank Umum di Bank Indonesia | 12,7% |
Akselerasi uang primer ini dipicu oleh dua faktor penentu. Faktor penyerbu utama adalah agresivitas operasi moneter yang dilakukan oleh BI serta ekspansi keuangan yang dilakukan oleh Pemerintah, termasuk kebijakan penempatan dana Pemerintah ke dalam sistem perbankan nasional.
Uang Beredar M2 Ikut Menguat
Sejalan dengan kenaikan uang primer, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) juga menunjukkan tren penguatan yang positif. Pada Mei 2026, pertumbuhan M2 terdongkrak naik menjadi 10,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian pada bulan sebelumnya yang berada di level 9,2 persen (yoy).
Suntikan likuiditas pasar uang yang mumpuni ini pada akhirnya ditransmisikan ke sektor riil. Pendorong utama dari pertumbuhan M2 ini tidak lain adalah derasnya penyaluran kredit perbankan serta peningkatan aktiva luar negeri bersih yang mengalir masuk ke dalam sistem keuangan nasional.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menempuh upaya penguatan likuiditas ini ke depan. Langkah konsisten ini mutlak diperlukan demi menjaga stabilitas makroekonomi domestik sekaligus menyokong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan melalui jalur penyaluran kredit perbankan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.