JAKARTA — Film The Odyssey karya Christopher Nolan menuai kontroversi jauh sebelum tayang di layar lebar. Perdebatan hangat di media sosial X, terutama dari kelompok sayap kanan, sempat menyoroti akurasi sejarah dan pemilihan pemeran yang beragam. Namun, film ini justru hadir sebagai bentuk kritik tajam terhadap pergerakan reaksioner dalam politik serta budaya modern.
Alih-alih sekadar mengadaptasi puisi epik dari abad ke-8 SM, Nolan melakukan perombakan naratif yang signifikan.
Ia menggunakan elemen-elemen klasik Homer untuk memberikan peringatan keras bahwa pengabaian terhadap norma kesopanan—khususnya terhadap para pendatang dan imigran—dapat memicu keruntuhan budaya yang lebih luas.
Narasi ini berbenturan langsung dengan ideologi xenofobia dan machismo yang sering disuarakan para kritikus film tersebut.
Melampaui Akurasi Sejarah
Terkait kritik akurasi sejarah yang muncul, film ini sebenarnya tidak berupaya menjadi dokumenter arkeologi. Sejarah itu sendiri merupakan campuran elemen yang tersebar selama hampir empat setengah abad. Nolan memilih gaya visual yang mengutamakan kesan artistik daripada ketepatan artefak.
Contohnya, baju zirah hitam milik Agamemnon yang diperankan Benny Safdie memang tidak memiliki dasar sejarah yang kuat, namun fungsinya adalah untuk menggambarkan sosok destruktif yang mendorong Odysseus ke arah kehancuran peradaban.
Perubahan drastis juga dilakukan pada struktur cerita. Nolan menggabungkan karakter Sinon dari karya Virgil, Aeneid, dengan peran Elpenor dari Odyssey.
Adegan kunci antara Odysseus dan Penelope juga diubah, sementara bagian Phaeacia dipangkas dan elemen narasinya dipindahkan ke interaksi Odysseus dengan Calypso. Keputusan ini mempertegas bahwa visi Nolan adalah sebuah interpretasi ulang, bukan sekadar reproduksi teks kuno.
Bayang-bayang Keruntuhan Peradaban
Latar belakang film ini mengambil inspirasi dari keruntuhan Zaman Perunggu akhir sekitar tahun 1220 hingga 1170 SM. Pada era tersebut, ketidakstabilan politik akibat perubahan iklim dan gangguan ekonomi memicu gelombang pengungsi serta penjarah yang dikenal sebagai ‘orang laut’.
Kejadian nyata ini menjadi cermin bagi karakter Odysseus dan Penelope yang sering mempertanyakan apakah peradaban mereka sedang berada di ambang kehancuran.
Implikasi dari film ini bagi penonton modern adalah pengingat akan pentingnya memelihara nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi krisis global.
Ketika peradaban Yunani Kuno runtuh sedemikian parah hingga menyebabkan hilangnya kemampuan menulis, tradisi lisan menjadi satu-satunya jembatan untuk bertahan.
Film ini diakhiri dengan dialog reflektif Odysseus bahwa generasi mendatang akan sangat bergantung pada penyair atau pencerita untuk menjaga sejarah tetap hidup ketika sistem tertulis tidak lagi mampu menopang peradaban.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.