Senin, 27 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Saham Konglomerat Salim hingga Prajogo Punya Prospek Paling Menarik di Semester II/2026

Saham Konglomerat Salim hingga Prajogo Punya Prospek Paling Menarik di Semester
Saham Konglomerat Salim hingga Prajogo Punya Prospek Paling Menarik di Semester

JAKARTA — Reli harga saham-saham kelompok konglomerasi diperkirakan masih berlanjut hingga penghujung tahun 2026. Meski begitu, para analis pasar modal kompak mengingatkan investor untuk bersikap lebih selektif dalam memilih emiten, seiring dengan valuasi saham yang kini sudah berada di level premium.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto menjelaskan, penguatan harga saham konglomerasi saat ini didorong oleh tiga faktor utama. Kombinasi arus dana asing yang kembali masuk ke pasar, rotasi investor ke saham berkapitalisasi besar atau big caps, serta adanya katalis spesifik pada masing-masing emiten menjadi motor penggerak utamanya.

Kondisi pasar saat ini membuat ruang kenaikan harga saham tidak lagi bisa bergantung pada ekspansi valuasi semata. Rully menekankan bahwa performa emiten konglomerasi sekarang lebih ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam mencetak pertumbuhan laba yang nyata.

Pertanyaan mendasar bagi investor bukan lagi soal murah atau mahalnya harga saham secara absolut, melainkan kecepatan pertumbuhan earnings per share (EPS) hingga akhir tahun ini.

Katalis Bisnis Jadi Penentu

Secara fundamental, grup konglomerasi yang memiliki fokus pada sektor pertumbuhan tinggi dinilai lebih atraktif. Sektor-sektor seperti pusat data atau data center, energi, hilirisasi, serta infrastruktur menjadi primadona. Emiten dengan tema pertumbuhan ini dianggap lebih unggul dibandingkan perusahaan yang bergerak di bisnis defensif namun minim katalis baru untuk mendorong kenaikan valuasi.

Untuk semester II/2026, Rully menyoroti tiga kelompok usaha sebagai yang paling menarik. Grup Salim dinilai unggul melalui pengembangan infrastruktur digital dan data center.

Sementara itu, Barito Group milik Prajogo Pangestu mendapatkan dukungan kuat dari sektor energi, hilirisasi industri, serta proyek energi terbarukan. Kelompok usaha Sinarmas, terutama melalui PT Dian Swastika Sentosa Tbk.

(DSSA), juga dinilai prospektif berkat kombinasi bisnis energi terintegrasi dan infrastruktur digital.

Evolusi Valuasi ke Arah Fundamental

Equity Research Analyst Simpan Asset Management Genandy Amiharja menambahkan, kondisi valuasi saham konglomerasi saat ini sudah relatif lebih sehat dibandingkan periode reli sebelumnya. Pada fase kenaikan terdahulu, sejumlah saham sempat diperdagangkan dengan valuasi hingga tiga digit.

Saat ini, pasar mulai mencari titik keseimbangan antara ekspektasi pertumbuhan dengan kinerja fundamental yang terukur.

Data pemantauan periode 20–24 Juli 2026 menunjukkan dinamika yang cukup signifikan di lapangan. Barito Group tercatat sebagai kelompok konglomerasi dengan kinerja kapitalisasi pasar terbaik, dengan penambahan nilai sekitar Rp58 triliun dalam sepekan.

Di sisi lain, Bakrie Group mencatatkan rata-rata kenaikan harga saham tertinggi sebesar 19,3% per saham pada periode yang sama. Saham-saham seperti MPRO, BREN, dan DSSA pun terpantau menjadi penggerak pasar yang cukup dominan.

Ke depannya, keberlanjutan reli saham-saham ini akan bergantung pada eksekusi strategi bisnis masing-masing grup. Genandy menilai pergerakan pasar saat ini masih bersifat jangka pendek dan selektif.

Pelaku pasar masih terus mencermati arah kebijakan makro dan regulasi pemerintah yang berpotensi memengaruhi sektor-sektor terkait. Keberhasilan emiten dalam menerjemahkan rencana aksi korporasi ke dalam laporan keuangan akan menjadi fondasi utama bagi pergerakan harga saham di sisa tahun ini.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda