Bau apak sisa air hujan bercampur aroma sayuran layu menyambut Bambang Haryo Soekartono saat kakinya menapaki lantai Pasar Keputih, Surabaya, Rabu lalu. Anggota DPR RI itu tidak sekadar datang untuk berbasa-basi.
Ia langsung menyisir sudut demi sudut pasar, memeriksa instalasi listrik, hingga mengecek kotak kaca tempat tabung pemadam kebakaran tersimpan. Wajahnya mengeras saat mendapati fakta bahwa alat pemadam api ringan (APAR) di sana sudah kedaluwarsa sejak tahun 2019.
Lima tahun lewat tanpa ada penggantian.
Kondisi pasar tradisional legendaris ini memprihatinkan. Banyak pedagang terpaksa menggelar lapak di bahu jalan karena area di dalam gedung utama tidak lagi memadai atau rusak parah. Padahal, dulu Pasar Keputih adalah salah satu pusat ekonomi rakyat kebanggaan Surabaya.
Proyek yang digagas di era Presiden Soeharto ini pernah menjadi standar pasar yang rapi, bersih, dan sangat fungsional. Sekarang? Atap yang bocor dan lantai retak menjadi pemandangan sehari-hari.
Desakan Perbaikan Infrastruktur
Bambang menegaskan, kondisi infrastruktur yang bobrok ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia mendesak Pemerintah Kota Surabaya segera turun tangan melakukan revitalisasi besar-besaran. Menurut dia, pengelola pasar tidak mungkin mampu membiayai perbaikan skala besar sendirian.
Anggaran daerah harus hadir. Intervensi kebijakan dari balai kota menjadi kunci utama agar pasar ini tidak semakin ditinggalkan oleh pembeli.
Pria yang akrab disapa BHS ini tidak mau hanya bicara soal rencana. Saat inspeksi berlangsung, ia langsung mengganti tiga unit APAR yang sudah kadaluwarsa dengan perangkat baru yang siap pakai. Ia juga memberikan peringatan keras kepada pengelola pasar.
Penempatan alat pemadam tidak boleh tersembunyi di dalam kantor. Alat-alat vital itu harus berada di titik-titik yang mudah dijangkau pedagang kapan saja, terutama saat terjadi percikan api akibat korsleting listrik.
Pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli komoditas. Ini adalah detak jantung ekonomi rakyat. Jika fasilitasnya tidak aman, pembeli akan lari ke minimarket atau pusat perbelanjaan modern. Begitu pula soal kenyamanan. Siapa yang mau berbelanja di tempat yang gelap dan kumuh?
Langkah Konkret Keamanan
Sebagai bentuk perhatian nyata, Bambang memberikan bantuan infrastruktur tambahan di lokasi. Ia memasang satu unit toilet umum agar sanitasi pasar lebih terjaga.
Sebanyak tiga kamera CCTV juga dipasang di titik-titik strategis untuk memantau aktivitas di area pasar yang seringkali rawan tindak pencurian. Tidak ketinggalan, 15 titik lampu penerangan baru dipasang untuk memastikan pasar tidak gelap saat sore hingga malam hari.
Pedagang yang berjualan di bahu jalan menjadi perhatian khusus legislator asal Jawa Timur ini. Membiarkan mereka tetap berjualan di tepi jalan raya berarti membiarkan risiko kecelakaan terjadi setiap saat.
Ruang publik yang sempit dan minim pengawasan membuat keamanan pedagang maupun pengunjung terancam. Solusi yang ditawarkan Bambang adalah mengembalikan fungsi pasar ke dalam gedung melalui perbaikan struktur dan penataan ulang zonasi.
Perbaikan yang ia lakukan memang bersifat stimulan, namun pesan yang dibawa sangat kuat. Pemerintah Kota Surabaya diminta lebih responsif terhadap laporan masyarakat di tingkat akar rumput. Revitalisasi pasar tradisional bukan sekadar tentang mengecat dinding atau menambal lantai.
Ini tentang membangun kembali ekosistem ekonomi yang memungkinkan warga kecil tetap bisa berdaya di tengah gempuran tren belanja daring.
Harapannya, perbaikan infrastruktur ini menjadi pemantik bagi dinas terkait untuk segera melakukan renovasi menyeluruh. Pasar Keputih harus hidup kembali, menjadi ruang ekonomi yang terang, aman, dan nyaman bagi siapa saja yang datang. Bambang sendiri memastikan bakal terus memantau progres penataan pasar ini dalam kunjungan-kunjungan berikutnya ke daerah pemilihannya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.