SURABAYA — Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono mendesak pemerintah daerah mengintegrasikan pelestarian budaya lokal ke dalam sistem pendidikan, mulai dari ekstrakurikuler gamelan dan tari tradisional di tingkat SD hingga SMA, sebagai mesin penggerak ekonomi dan pariwisata Jawa Timur.
“Budaya harus menjadi bagian dari pendidikan,” kata Bambang saat mengunjungi UPT Taman Budaya Cak Durasim Surabaya, Rabu. Dia menilai fasilitas tersebut memiliki potensi besar sebagai pusat edukasi seni dan budaya bagi generasi muda, terutama jika didukung oleh kunjungan rutin pelajar dari sekolah-sekolah di wilayah.
Prospek ekonomi dari penguatan budaya sudah terbukti di Banyuwangi. Daerah setingkat itu berhasil meningkatkan kedatangan wisatawan mancanegara melalui atraksi budaya yang dikemas dengan menarik dan terintegrasi dengan akses transportasi.
Potensi wisata masih jauh tertinggal
Bambang membandingkan data wisatawan asing: Penang, Malaysia, menerima sekitar tujuh juta orang per tahun, sementara Surabaya—kota terbesar kedua di Indonesia—baru mencapai sekitar 300 ribu wisatawan. Selisih tersebut menunjukkan besarnya peluang yang belum dimaksimalkan.
“Surabaya punya potensi serupa jika mampu mengintegrasikan promosi budaya dengan transportasi publik dan destinasi wisata,” ujar Bambang. Integrasi ini bukan sekadar menampilkan atraksi budaya, tetapi menciptakan ekosistem wisata yang mudah diakses dan menguntungkan ekonomi lokal—dari pedagang kuliner, hotel, hingga kerajinan tangan.
Taman Budaya: ruang kreativitas tanpa biaya
Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur Deddy Hariyono mengatakan pihaknya terus mengembangkan fasilitas itu sebagai ruang kreatif gratis bagi seniman untuk berlatih dan berkarya. Sasaran utama adalah memperkenalkan seni dan budaya kepada Generasi Z yang notabene lebih tertarik pada konten digital.
Pertunjukan yang digelar di Taman Budaya—baik oleh pemerintah maupun komunitas lokal—menunjukkan sinyal positif. “Minat anak muda terhadap kebudayaan terus meningkat,” kata Deddy. Data antusiasme ini menjadi modal untuk ekspansi lebih lanjut.
Deddy menekankan visi jangka panjang: “Kami ingin Taman Budaya menjadi rumah seniman sekaligus ruang bagi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan budaya daerah.” Tanpa identitas budaya yang kuat, pariwisata budaya tidak akan bertahan lama; generasi muda adalah jaminan kontinuitas.
Strategi penguatan budaya ini sejalan dengan target pemerintah untuk merevitalisasi sektor pariwisata pasca-pandemi. Jawa Timur, dengan warisan budaya yang kaya—dari reog, wayang, hingga batik—memiliki aset yang tidak boleh dibiarkan terpinggirkan oleh tren digital.
Kolaborasi antara DPR, pemerintah daerah, dan institusi budaya seperti Taman Budaya menjadi kunci menghubungkan generasi muda dengan nilai-nilai lokal sambil membuka peluang ekonomi nyata.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.