Kamis, 30 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Anggota DPR dorong kampung kreatif jadi sarana edukasi

Pengunjung belajar membatik di Kampung Batik Tin Gundih Surabaya, contoh kampung kreatif berbasis budaya dan edukasi tradisio
Kampung Batik Tin di Kelurahan Gundih, Surabaya, menggabungkan pelestarian batik tradisional dengan edukasi wisata yang menarik minat pengunjung lokal dan mancanegara. (Ilustrasi: AI)

SURABAYA — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Haryo Soekartono mendorong pengembangan kampung kreatif berbasis budaya dan permainan tradisional sebagai pusat edukasi sekaligus destinasi wisata yang mampu membangun karakter generasi muda.

Kampung Batik Tin atau Kampung Ceria di Kelurahan Gundih, Surabaya, menjadi contoh nyata model pengembangan yang berhasil. Saat mengunjungi kawasan tersebut pada Rabu, Bambang melihat langsung bagaimana pelestarian batik terintegrasi dengan edukasi yang menarik minat wisatawan, termasuk mancanegara.

“Ini luar biasa karena mampu menggabungkan pelestarian batik dengan edukasi sehingga menjadi daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan,” ujar Bambang.

Dari sentra produksi hingga ruang edukasi

Kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sentra produksi batik tradisional. Pengunjung, khususnya anak-anak, dapat belajar langsung proses membatik dari awal hingga akhir. Model ini terbukti efektif menarik perhatian wisatawan lokal maupun asing yang ingin memahami warisan budaya Indonesia secara mendalam.

Bambang juga mengapresiasi kolaborasi solid antara Pemerintah Kota Surabaya, aparatur kecamatan, kelurahan, LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan), dan pengurus RW yang berhasil membina kampung kreatif ini hingga berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat.

Permainan tradisional sebagai alternatif gawai

Kampung Ceria juga menghadirkan berbagai permainan tradisional seperti dakon, egrang, dan hulahop. Konsep ini dinilai Bambang sebagai alternatif positif untuk mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai yang semakin memprihatinkan.

Aktivitas bermain tradisional tidak sekadar menggerakkan anak lebih aktif secara fisik. Lebih penting lagi, permainan ini menanamkan nilai sportivitas, disiplin, dan semangat berprestasi sejak dini. Anak-anak belajar tentang kesetiaan pada aturan, kerja sama tim, dan sportivitas ketika kalah atau menang.

Dampak jangka panjang dari pendekatan ini signifikan bagi pembentukan karakter generasi muda. Alih-alih menghabiskan waktu di depan layar, mereka terlibat dalam aktivitas sosial yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan secara organik.

Peluang replikasi di kampung lain

Kesuksesan Kampung Ceria mendorong Bambang mengajak kampung-kampung lain di Surabaya mengadopsi konsep serupa. Tujuannya sederhana: semakin banyak ruang edukasi berbasis budaya dan permainan tradisional yang tersedia, semakin banyak generasi muda yang terjangkau dengan pola pengembangan holistik ini.

Lurah Gundih Christiono menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian Anggota DPR RI terhadap pengembangan Kampung Ceria. “Kunjungan ini menjadi kebanggaan bagi warga RW 4 Kelurahan Gundih sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan kawasan sebagai destinasi edukasi budaya dan permainan tradisional yang dikenal masyarakat luas,” katanya.

Momentum ini menunjukkan bahwa pengembangan kampung kreatif tidak hanya soal ekonomi lokal, tetapi juga investasi jangka panjang dalam pendidikan karakter dan pelestarian budaya Indonesia yang semakin tergerus modernisasi.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda