“Anggaran harus siap sedia karena ini bisa dikategorikan sebagai keadaan darurat. Dukungan politik anggaran pasti kami dorong agar pendanaan penanganan kekeringan dapat dialokasikan dan mengambil dari anggaran lain yang bisa direalokasi,” tutur Daniel Johan.
Puncak Musim Kemarau Dimulai Agustus
BMKG melalui Sekretaris Utama Guswanto mengonfirmasi prediksi kritis ini. Puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Agustus hingga September, dengan curah hujan di sebagian besar wilayah masih berada di bawah normal hingga awal Oktober.
Wilayah dengan potensi kekeringan tertinggi meliputi sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan.
Pulau Jawa menjadi salah satu kawasan paling rentan karena menggabungkan dua faktor rawan: curah hujan di bawah normal dan kebutuhan air yang sangat tinggi akibat pusat pertanian dan populasi padat. Bali dan Nusa Tenggara, yang secara klimatologis memang lebih sering mengalami kekeringan, diperkirakan akan menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan yang meningkat.
Di Kalimantan, terutama wilayah selatan dan tengah, curah hujan rendah berpotensi menambah jumlah titik panas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sulawesi Selatan juga diprediksi masih mengalami defisit hujan hingga September, memicu kekhawatiran terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.
“Awal musim hujan mulai masuk pada Oktober di sebagian wilayah barat Indonesia dan akan meluas pada November,” kata Guswanto Jumat (31/7).

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.