Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menepis anggapan miring soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut-sebut menggerus pos anggaran pendidikan nasional.
Di tengah mencuatnya kekhawatiran publik mengenai nasib infrastruktur sekolah dan kesejahteraan guru honorer, Sudaryono menegaskan bahwa beban fiskal pendidikan yang ada saat ini bukanlah dampak dari kebijakan pemberian makan siang bagi anak sekolah tersebut.
Ia berbicara dengan nada lugas saat ditemui di kantornya di kawasan Jakarta Pusat, Jumat, 31 Juli 2026. Baginya, menyalahkan program MBG atas kerusakan ruang kelas atau minimnya gaji pengajar adalah sebuah kekeliruan logika yang fatal. Masalah-masalah tersebut menurutnya sudah mengakar lama, jauh sebelum kursi presiden diduduki oleh Prabowo Subianto.
“Dulu sebelum ada MBG, sekolah-sekolah yang rusak, yang atapnya bolong, itu kan sudah ada. Enggak mungkin gara-gara Pak Prabowo jadi presiden dan meluncurkan MBG, sekolah-sekolah mendadak jadi rusak semua, kan tidak begitu,” cetus Sudaryono di depan para awak media.
Menggugat Warisan Masalah
Sudaryono justru balik melemparkan pertanyaan tajam kepada mereka yang mengaitkan anggaran pendidikan dengan program gizi. Ia mempertanyakan ke mana larinya perhatian dan anggaran untuk pemeliharaan sekolah pada era-era sebelumnya.
Kalau memang hambatan utamanya adalah anggaran yang terbatas, seharusnya perbaikan sekolah sudah bisa dituntaskan sejak lama, bahkan saat program MBG belum ada di atas meja perencanaan negara.
Ia menantang pihak-pihak yang melayangkan kritik untuk melihat fakta sejarah. Jika seandainya MBG tidak pernah diwacanakan sekalipun, Sudaryono yakin kerusakan fasilitas pendidikan akan tetap menjadi pekerjaan rumah yang menumpuk. Baginya, narasi bahwa MBG telah “mencuri” jatah perbaikan sekolah adalah sebuah pembelokan fakta yang tidak relevan.
Meski membantah keterkaitan tersebut, pemerintah saat ini tidak tinggal diam menghadapi kondisi fisik bangunan sekolah yang memprihatinkan. Buktinya, target perbaikan infrastruktur telah disusun secara masif. Untuk tahun ini saja, pemerintah berkomitmen merenovasi 16.000 sekolah.
Angka itu diproyeksikan melonjak tajam hingga mencapai 90.000 sekolah dalam waktu dekat. Bahkan, secara bertahap, pemerintah menargetkan penyisiran kerusakan bangunan di 300.000 hingga 400.000 sekolah di seluruh penjuru negeri.
Menjawab Isu Kesejahteraan Guru
Selain persoalan fisik bangunan, isu kesejahteraan guru honorer yang disebut terhimpit oleh anggaran MBG juga langsung dibantah oleh Sudaryono. Ia menolak anggapan bahwa pendapatan guru non-ASN terpotong karena pemerintah mengalihkan dana untuk operasional makan siang para siswa.
Faktanya, Presiden Prabowo justru mengambil langkah berani dengan menaikkan tunjangan bagi guru honorer hingga menyentuh angka Rp2 juta. Kebijakan ini diberlakukan justru di saat program MBG sedang berjalan. Peningkatan kesejahteraan ini dipandang sebagai bukti nyata bahwa pemerintah mampu menjalankan dua agenda besar secara simultan tanpa harus mengorbankan salah satunya.
“Dulu sebelum ada MBG, guru honorer ya gajinya memang sudah kecil. Tidak ada kaitan langsung penurunan pendapatan dengan hadirnya MBG. Sekarang, justru kita benahi semua dengan kenaikan tunjangan tersebut,” ungkapnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal dari pemerintah untuk mementahkan kritik yang berkembang di masyarakat. BGN ingin menunjukkan bahwa alokasi dana untuk nutrisi anak dan pembangunan sektor pendidikan adalah dua pilar yang saling mendukung bagi masa depan sumber daya manusia Indonesia.
Sudaryono menekankan, alih-alih saling mematikan, kedua agenda ini merupakan bagian dari upaya besar pemerintah dalam melakukan pembenahan sistemik yang sudah terlalu lama terabaikan di masa lalu.
Ke depan, fokus pemerintah tetap tertuju pada realisasi renovasi sekolah-sekolah yang kondisinya sudah tidak layak pakai agar tidak ada lagi siswa yang belajar dalam bayang-bayang atap yang hampir ambruk.
Sembari memastikan distribusi gizi berjalan, pos anggaran pendidikan akan terus diawasi ketat untuk memastikan tidak ada lagi hak guru yang tersendat, sekaligus memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan berdampak langsung bagi peningkatan kualitas pendidikan di akar rumput.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.