“Apakah edukasi budaya perlu diperkuat? Sangat perlu menurut saya. Jadi banyak wisatawan itu perlu diedukasi diajarkan bahwa budaya tidak boleh dilanggar,” tegas Taufan.
Ia menambahkan, wisatawan juga harus mendapat penjelasan sejak dari negara asal mereka. Pesan sederhana soal etika, aturan, dan penghormatan terhadap budaya lokal bisa membantu menekan pelanggaran yang muncul karena ketidaktahuan.
“Jadi mereka harus tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, sekali lagi edukasi harus diberikan sejak sebelum mereka melakukan perjalanan. Sejak dari negara asal mereka, apa yang harus diperhatikan dan apa yang harusnya tidak boleh dilakukan ketika berkunjung ke destinasi wisata, terlebih Bali,” lengkapnya.
Dampaknya ke kualitas pariwisata Bali
Di sinilah isu ini jadi penting bagi pariwisata Bali. Menurut Taufan, keterbukaan Bali terhadap wisatawan dunia harus tetap berjalan beriringan dengan penegakan aturan yang konsisten. Dua hal itu, katanya, bukan perkara yang saling bertentangan.
Kalau aturan longgar, pelanggaran mudah muncul dan citra destinasi ikut terdampak. Sebaliknya, kalau edukasi dan pengawasan berjalan bersama, Bali bisa menjaga wajahnya sebagai tujuan wisata kelas dunia tanpa mengorbankan kearifan lokal. Itu yang disebut Taufan sebagai bagian dari prinsip quality tourism dan sustainability.
“Bali harus tetap terbuka bagi wisatawan dunia tapi setiap wisatawan datang it wajib mematuhi hukum ya, menghormati kearifan budaya dan kearifan lokal, sehingga prinsip-prinsip quality tourism itu tetap terjaga ya sustainability-nya. Sehingga bisa meminimalisir pelanggaran-pelanggaran yang ada, jadi wisatawan yang datang adalah wisatawan yang berkualitas,” tutupnya.
Dengan pola seperti itu, sorotan terhadap perilaku WNA di Bali tidak berhenti pada keluhan. Arah pembahasannya bergeser ke langkah yang lebih nyata: pengawasan bersama, edukasi sejak awal, dan aturan yang ditegakkan tanpa setengah-setengah.
Dan di tengah semua itu, satu pesan Taufan tetap menonjol: Bali harus dijaga sebagai destinasi wisata kelas dunia, sambil memastikan setiap wisatawan yang datang paham batasan yang berlaku. Tanpa itu, pelanggaran bakal terus berulang, dan citra Bali ikut menanggung bebannya.
Langkah yang diminta tetap konsisten
Kolaborasi, edukasi, dan penegakan aturan. Tiga hal itu, menurut Taufan, harus berjalan bersamaan jika Bali ingin menekan pelanggaran wisatawan mancanegara. Ia tidak menempatkan satu pihak sebagai penanggung jawab tunggal, melainkan membagi peran ke semua pemangku kepentingan pariwisata.
Itu sebabnya, isu pengawasan WNA berulah di Bali bukan sekadar soal ketertiban. Ini juga soal bagaimana destinasi besar mempertahankan reputasinya ketika arus wisata terus datang. Taufan menutup pesannya dengan satu penekanan yang jelas: wisatawan yang datang harus berkualitas, dan itu hanya bisa terwujud kalau aturan dijaga sejak awal perjalanan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.