Suasana di dalam rumah berubah menjadi ruang dialog yang cair. Tidak ada kaku-kaku protokoler partai. Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, pertemuan ini terasa sangat membumi. Kunjungan ke Desa Ngadas ini memang menjadi momentum bagi elit politik nasional untuk memahami denyut nadi masyarakat adat secara langsung.
Menghargai Akar Budaya
Hari Raya Karo bagi warga Tengger adalah perayaan besar. Selain ritual keagamaan, ia menjadi perekat sosial yang memperkuat silaturahmi antar keluarga dan tokoh masyarakat. Kehadiran Hermawi di tengah ritual ini bukan hanya soal urusan politik praktis, tetapi juga bentuk apresiasi nyata terhadap warisan budaya yang sudah turun-temurun dijaga warga lereng Bromo.
Desa Ngadas, yang letaknya tak jauh dari kawasan wisata Bromo, memang memiliki keunikan tersendiri. Masyarakatnya berhasil menyeimbangkan tuntutan zaman tanpa harus meninggalkan tradisi nenek moyang. Kehadiran politisi di sini menjadi bukti bahwa kearifan lokal tetap punya tempat di tengah dinamika nasional.
Setelah selesai dengan jamuan, rombongan kembali bersiap melanjutkan agenda. Namun, kesan dari meja makan tadi masih terasa kental. Ritual Andon Mangan yang sederhana justru menjadi jembatan komunikasi paling efektif. Tidak perlu kata-kata berbunga, cukup dengan menghargai piring yang disodorkan tuan rumah, hubungan emosional terbangun secara alami.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa mendekati masyarakat adat tidak selalu harus dengan pidato panjang lebar. Kadang, hanya dengan duduk bersama, mencicipi hidangan lokal, dan mengikuti aturan adat setempat, pesan keterbukaan sudah tersampaikan dengan sangat baik.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.