CEUTA — Krisis migran Ceuta memicu serangan politik dari Donald Trump dan jajaran pemerintah Amerika Serikat, setelah puluhan ribu orang menyeberang dari Maroko ke enklave Spanyol itu. Sedikitnya 72 orang dilaporkan tewas, sementara Washington menyalahkan kebijakan kiri Madrid atas lonjakan penyeberangan.
Dampaknya langsung terasa di dua sisi. Ceuta harus menangani korban, pencarian, dan penanganan arus balik migran, sedangkan konflik itu kini melebar menjadi pertarungan politik antara Gedung Putih dan pemerintah Spanyol yang dipimpin Pedro Sánchez. Soalnya, kasus ini tidak berhenti di perbatasan; ia sudah masuk ke panggung diplomasi Barat.
Trump menyebut situasi itu seperti “invasi”
Dalam rapat kabinet pada Jumat, Trump mengatakan ia melihat situasi di Spanyol dan menyebutnya sebagai “catastrophe”. Ia juga menggambarkan kejadian itu sebagai sesuatu yang mirip “invasi” ke sebuah negara. Menurut Trump, kondisi serupa bisa terjadi di Amerika Serikat jika Partai Republik kalah pemilu.
Ia kemudian mengunggah video penyeberangan kacau itu di Truth Social. Dalam unggahannya, Trump menulis bahwa apa yang terjadi di Spanyol dengan “tens of thousands of Illegal Immigrants” juga pernah terjadi di Amerika Serikat saat pemerintahan Joe Biden, dan akan kembali terjadi jika “Dumocrats” berkuasa lagi.
Wakil Presiden AS JD Vance bahkan lebih keras. Ia menulis, “Thank God POTUS was elected and our country’s border no longer looks like this.” Vance juga menyebut gambar-gambar dari Spanyol sebagai pengingat pahit tentang konsekuensi migrasi massal dan “radical left-wing globalist policies” yang, menurut dia, membuka jalan bagi “Invasion of the West”.
Serangan itu bukan cuma datang dari Gedung Putih. Departemen Luar Negeri AS juga ikut menegur Madrid lewat unggahan yang menyebut insiden di Ceuta sebagai akibat langsung dari upaya pemerintah Spanyol yang sengaja memfasilitasi migrasi ilegal massal ke Eropa.
Seorang juru bicara kementerian itu mengatakan, “We are considering actions to defend Americans at home and abroad from this threat and stand ready to assist other European allies considering similar options. If Spain had their own President Trump, this wouldn’t be an issue.”
Angka korban dan arus balik masih berubah
Laporan awal menyebut sekitar 60.000 migran menyeberang dari Maroko ke Ceuta, dengan sedikitnya 67 orang tewas. Sumber lain, termasuk SCMP, menyebut jumlah korban jiwa naik menjadi sedikitnya 72 setelah lima jenazah tambahan ditemukan di pesisir Ceuta pada Minggu.
Perbedaan itu menunjukkan situasi di lapangan masih bergerak, sementara otoritas setempat terus menghitung korban dan menata kembali kontrol perbatasan.
SCMP juga melaporkan lebih dari 50.000 orang masuk ke Ceuta lewat darat dan laut, dan lebih dari 48.000 sudah kembali ke Maroko dalam 48 jam. Pejabat pemerintah Spanyol di Ceuta, Miguel Angel Perez, mengatakan lebih dari 1.000 orang telah mendapat perawatan kesehatan sejak Kamis. Ia menyebut keadaan kota memang membaik, tetapi pekerjaan untuk memulihkan normalitas belum selesai.
Ceuta punya posisi yang rumit. Wilayah itu berbatasan darat dengan Maroko dan terpisah dari daratan utama Spanyol oleh Selat Gibraltar. Meski bagian dari Spanyol, Ceuta punya pengecualian dari aturan biasa wilayah Schengen. Artinya, migran yang masuk ke sana tidak bisa begitu saja menyeberang ke Eropa daratan tanpa pemeriksaan tambahan.
Di Madrid, Pedro Sánchez menyebut arus masuk itu sebagai “an attack on Spain’s territorial integrity” dan berjanji memakai semua sumber daya negara untuk menjamin keamanan serta hidup berdampingan.
Menteri Luar Negeri Jose Manuel Albares menambahkan bahwa hampir semua orang yang masuk Ceuta sudah kembali ke Maroko. Tapi perdebatan politik belum reda.
Dari Washington, Trump, Vance, dan Mike Johnson terus mendorong narasi bahwa krisis migran Ceuta adalah bukti kegagalan kebijakan kiri di Eropa, dan isu itu tampaknya masih akan dipakai dalam pertarungan politik berikutnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.