JAKARTA — Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 resmi dibuka di Petak Enam, Glodok, pada Minggu, 1 Agustus 2026. Gerai ini disebut sebagai toko kue peranakan Tionghoa otentik pertama di Jakarta dan langsung menarik ratusan pengunjung yang memadati area tersebut.
Suasana di kawasan bersejarah itu terasa ramai sejak aroma adonan kue yang baru matang tercium dari gerai berdesain estetis nan hangat. Antrean pembeli terbentuk, percakapan terdengar akrab, dan banyak pengunjung datang untuk mencicipi langsung kue bulan atau mooncake serta varian pie otentik yang selama ini lebih sering hadir di momen perayaan tertentu.
Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 dan warisan keluarga Wen
Kehadiran Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 berangkat dari kisah keluarga yang cukup personal. Andrye Setiawan, yang terlahir dari marga Wen, menjadi figur penting di balik identitas dan resep warisan yang disebut turun-temurun dari sang Tante.
Di balik produk yang tersaji, ada ingatan tentang dapur keluarga. Dulu, membuat kue bersama menjadi momen hangat yang menyatukan keluarga. Nilai itu kini dibawa ke pusat kota Jakarta, di tengah kawasan yang memang lekat dengan sejarah dan tradisi Tionghoa.
Andrye menyebut, “Bagi kami, kue bukan sekadar hidangan manis, melainkan simbol kehangatan. Melalui Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980, kami ingin membagikan nilai-nilai kebersamaan, cinta, dan kehangatan keluarga yang diabadikan dalam setiap gigitan kue peranakan kami,” ujar Andrye Setiawan di sela-sela peresmian.
Mooncake dan pie otentik hadir setiap hari
Yang membuat gerai ini terasa berbeda adalah waktu kehadirannya. Jika kue tradisional Tionghoa sering dicari menjelang perayaan, Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 mencoba mengubah kebiasaan itu dengan menghadirkan rasa yang bisa dinikmati setiap hari.
Bagi pencinta kuliner, langkah ini penting karena memberi akses yang lebih dekat ke cita rasa yang selama ini identik dengan perayaan dan stok musiman. Kini, mooncake dan varian pie otentik tidak harus menunggu festival tahunan untuk dicicipi.
Di titik ini, gerai tersebut bukan cuma soal jualan kue. Ia juga menjadi ruang kecil untuk menjaga ingatan rasa. Pengunjung yang datang ke Petak Enam bisa melihat bagaimana resep keluarga diberi rumah baru, tanpa kehilangan akar tradisinya.
Petak Enam Glodok dan daya tarik nostalgia kuliner
Pemilihan Petak Enam, Glodok, terasa selaras dengan karakter produknya. Kawasan ini sudah lama dikenal sebagai ruang yang menyimpan jejak sejarah, kuliner, dan budaya Tionghoa di Jakarta. Maka, kehadiran gerai baru dengan identitas peranakan otomatis menyatu dengan atmosfer sekitarnya.
Di tengah hiruk-pikuk pengunjung, bau kue yang baru matang jadi penanda paling sederhana bahwa nostalgia masih punya tempat di meja makan hari ini. Bukan nostalgia yang dibicarakan lewat slogan kosong, melainkan lewat rasa, tekstur, dan rutinitas baru: kue peranakan bisa dibeli kapan saja.
Bagi industri kuliner, gerai seperti ini memperlihatkan bagaimana resep warisan bisa dikemas ulang tanpa memutus akar keluarga. Satu sisi menjaga tradisi, sisi lain membuka peluang untuk menjangkau pembeli yang mungkin sebelumnya hanya mengenal mooncake saat momen tertentu.
Dan di Glodok, tempat sejarah dan arus pembeli sama-sama padat, Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 masuk dengan identitas yang jelas: aroma hangat, resep warisan, dan pembukaan yang langsung disambut antrean panjang pada Minggu, 1 Agustus 2026.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.