Di lapangan, efeknya terasa langsung. Sekolah perlu memastikan distribusi makanan tidak menambah risiko, sementara fasilitas kesehatan tetap bersiap jika ada korban lanjutan yang butuh penanganan. Pemerintah daerah pun harus menjaga agar pemeriksaan sampel berjalan cepat, sebab hasilnya akan menentukan apakah persoalan ini datang dari bahan baku, proses masak, atau tahapan distribusi.
BGN kejar sistem digital untuk memantau dapur MBG
Setelah insiden di Semarang, BGN juga mempercepat penerapan sistem digital untuk mencatat seluruh tahapan produksi makanan. Sistem ini dirancang agar setiap proses bisa terdokumentasi, mulai dari waktu memasak, menu, bahan, sampai bumbu yang dipakai.
Sudaryono mengatakan sistem itu sedang dipaksa berjalan di seluruh dapur yang terlibat, termasuk melalui koordinator kecamatan. Ia memberi contoh bahwa waktu mencacah kol hingga waktu memasak akan dikunci dalam sistem.
“Kita sudah siapkan sistemnya. Ini sekarang sedang kita paksa semua dapur, ada koordinator kecamatan dan lain-lain, sedang kita paksa kerja pakai sistem. Jadi, kapan kol mulai dicacah, kapan dimasak itu semua kita kunci,” ujarnya.
Menurut dia, targetnya sistem itu rampung dalam waktu seminggu atau dua minggu. Jika berjalan sesuai rencana, orang tua siswa, guru, dan dinas kesehatan bisa melihat jam memasak, jenis menu, hingga bumbu yang dimasukkan.
BGN berharap pengawasan seperti ini membuat proses di dapur lebih transparan. Bukan cuma untuk mengecek apa yang keluar dari dapur, tapi juga untuk menelusuri jejak bahan bila ada keluhan kesehatan yang muncul setelah makanan dibagikan.
Sudaryono menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa pemerintah ingin semua pihak memantau proses produksi secara terbuka. Hasil laboratorium dari kasus Semarang akan menjadi titik penting berikutnya, karena dari sanalah penyebab insiden ini bisa dipastikan dan langkah perbaikan disusun untuk dapur-dapur MBG lain di daerah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.