WASHINGTON — ancaman serangan Iran dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai sudah mendekati batas. James Jeffrey, mantan Duta Besar AS untuk Irak dan Turki, mengatakan Washington makin dekat ke titik ketika ancaman militer yang diulang terus tanpa langkah nyata justru kehilangan daya tekan.
Jeffrey menyampaikan pandangan itu saat berbicara dengan Joe Mathieu dan Kailey Leinz dalam edisi malam Bloomberg Balance of Power. Ia melihat pola ultimatum yang disampaikan Gedung Putih terhadap Teheran mulai berjalan di tempat, sementara perundingan AS-Iran tetap dibayangi bantahan dari pihak Iran.
Jeffrey: ancaman serangan Iran mulai habis tenaga
Dalam penjelasannya, Jeffrey, yang kini menjadi Distinguished Fellow di Washington Institute for Near East Policy, menyebut Washington berada di “end of the tether” atau ujung batas sabar jika terus mengancam aksi militer tanpa benar-benar mengeksekusinya. Istilah itu menggambarkan situasi ketika tekanan yang dipakai berulang kali mulai kehilangan efek.
Jeffrey bukan orang baru dalam urusan ini. Ia pernah menjabat sebagai Special Representative for Syria Engagement dan bertugas pada masa jabatan pertama Trump. Karena itu, peringatannya punya bobot politik sekaligus diplomatik. Ia membaca bahwa pesan keras dari Washington akan makin sulit dipercaya jika tidak disertai tindak lanjut yang konsisten.
Di saat yang sama, Trump justru kembali mengirim sinyal keras. Dalam pernyataan yang dilaporkan The Guardian dan South China Morning Post, ia menyebut Iran mendapat “last chance” untuk mencapai kesepakatan. Ia juga menyinggung pembukaan Selat Hormuz bisa terjadi cepat, bahkan “literally by tomorrow”, meski Iran membantah ada pembicaraan langsung dengan AS.
Selat Hormuz jadi kartu tekan utama
Selat Hormuz muncul sebagai titik paling sensitif dalam manuver terbaru Washington. Trump menyatakan fase pertama dari langkah yang ia dorong adalah pembukaan selat itu. Setelah itu, menurut dia, tahap berikutnya adalah denuklirisasi. Ia juga mengatakan tidak akan membiarkan Iran mengenakan biaya tambahan bagi kapal yang melintas.
Pernyataan itu penting karena Selat Hormuz adalah jalur pelayaran yang selalu jadi pusat ketegangan ketika hubungan AS dan Iran memanas. Saat jalur ini ikut dibawa ke meja politik, efeknya tidak berhenti di level diplomasi. Ketidakpastian bisa merembet ke pelayaran, keamanan maritim, dan kalkulasi harga energi di pasar yang memantau kawasan Teluk dengan sangat dekat.
Trump bahkan disebut menilai negosiasi sedang berlangsung atas permintaan Iran, dengan dukungan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Namun, Teheran membantah klaim itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan, “We currently do not have negotiations with America,” dan menegaskan pembicaraan yang ada berlangsung melalui Oman serta berfokus pada keamanan lintasan kapal di Selat Hormuz.
Kenapa penyangkalan Iran membuat posisi Washington rumit
Bantahan Teheran membuat narasi Gedung Putih tidak berjalan mulus. Trump ingin menampilkan tekanan sebagai alat negosiasi, tapi Jeffrey menilai taktik itu bisa aus jika ancaman terus dilontarkan tanpa hasil yang terlihat. Di titik ini, kredibilitas ancaman jadi barang mahal. Sekali turun, sulit naik lagi.
Bagi pembaca, dampaknya tidak berhenti pada duel kata-kata dua pemerintah. Ketika AS dan Iran saling dorong di jalur diplomasi dan ancaman militer, pasar, perusahaan pelayaran, serta negara-negara Teluk ikut membaca sinyal.
Satu kalimat keras dari Washington bisa langsung memengaruhi ekspektasi soal keamanan jalur laut dan kelancaran suplai energi. Satu bantahan dari Teheran bisa menahan optimisme pasar. Tegang. Cepat berubah.
The Guardian juga melaporkan Trump sempat menyebut dirinya tidak akan membiarkan Iran memungut tol di Selat Hormuz. South China Morning Post menambahkan bahwa Trump menggambarkan negosiasi itu sebagai kesempatan terakhir bagi Iran untuk menandatangani dokumen yang ia sebut baik. Financial Times pun mencatat garis serupa: negosiasi disebut masih berjalan meski Teheran menyangkalnya.
Dengan posisi yang sama-sama keras, ruang kompromi tampak sempit. Jeffrey menyorot risiko paling nyata: jika ancaman terus diulang dan tidak ada langkah lanjutan, lawan akan membaca bahwa Washington hanya menaikkan nada, bukan menaikkan tindakan. Dan itu, bagi diplomasi, jauh lebih mahal daripada sekadar retorika.
Trump sendiri tetap mengaitkan perundingan dengan tenggat yang pendek. Ia menggambarkan fase awal sebagai pembukaan Selat Hormuz, sementara tahap denuklirisasi disebutnya akan memakan waktu lebih lama. Di tengah saling bantah itu, satu hal belum berubah: Washington masih menekan, Teheran masih menolak, dan ruang untuk uji nyali tampaknya belum habis.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.