Kamis, 6 Agustus 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Penutupan Jalan Bendungan Lahor Dikeluhkan Warga, Sarmuji: Harus Cari Opsi Lain!

Penutupan Jalan Bendungan Lahor Dikeluhkan Warga, Sarmuji
Penutupan Jalan Bendungan Lahor Dikeluhkan Warga, Sarmuji

MALANG — Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M. Sarmuji menggarisbawahi kekhawatiran warga atas penutupan akses jalan di atas Bendungan Lahor sejak 1 Agustus 2026. Dalam audiensi dengan Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Fahmi Hidayat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (5 Agustus 2026), Sarmuji menekankan perlunya solusi alternatif yang tak mengorbankan keselamatan publik.

“Kalau bukan karena pertimbangan keamanan atau keselamatan, mohon dibuka tetapi dengan skema limitasi waktu yang ada. Kalau ditutup total akan menimbulkan kemacetan di jalan utama dan mengganggu perekonomian. Kita harus cari opsi lain agar masyarakat tidak terlalu terdampak besar,” ujar Sarmuji.

Aspirasi Warga Sampai ke Parlemen

Sarmuji menyampaikan bahwa dirinya telah menerima sejumlah aspirasi dari warga Malang terkait kebijakan penutupan ini. Masyarakat setempat khawatir pembatasan akses akan memicu kemacetan di ruas jalan utama dan berdampak negatif pada aktivitas ekonomi lokal.

Keluhan tersebut pun disampaikan secara formal kepada Perum Jasa Tirta I melalui surat yang ditandatangani Sarmuji sebelum pertemuan berlangsung.

Meski mengutamakan aspirasi warga, Sarmuji tetap menggarisbawahi bahwa aspek keselamatan tidak boleh dikorbankan. Ia mencari titik temu antara kebutuhan keamanan dan kepentingan ekonomi masyarakat dengan mengusulkan mekanisme yang lebih fleksibel—misalnya pembatasan waktu akses alih-alih penutupan total.

Retakan Konstruksi Jadi Penyebab Penutupan

Dalam pertemuan yang sama, Fahmi Hidayat menjelaskan latar belakang keputusan penutupan. Bendungan Lahor, yang dibangun pada 1973 dan mulai beroperasi pada 1977, tengah menjalani proses review untuk izin perpanjangan operasi. Proses tersebut dinyatakan mendesak setelah ditemukan sejumlah titik retakan pada konstruksi bendungan.

Kehadiran retakan pada struktur bendungan yang sudah berusia lebih dari empat dekade menjadi alasan utama Perum Jasa Tirta I menutup akses jalan yang melewati atas bendungan. Langkah ini diambil sebagai tindakan prevensi untuk memastikan tidak ada kecelakaan yang melibatkan pengguna jalan selama proses perbaikan dan evaluasi struktural berlangsung.

Dampak Ekonomi dan Mobilitas

Penutupan akses jalan Bendungan Lahor bukan sekadar ketidaknyamanan bagi pengguna jalan. Lokasi strategis bendungan membuat jalan di atasnya menjadi rute vital yang menghubungkan berbagai wilayah di Malang dan sekitarnya. Dengan ditutupnya akses ini, kendaraan terpaksa mengambil rute alternatif yang lebih panjang dan menyebabkan antrian berkepanjangan di jalan-jalan utama lain.

Bagi sektor ekonomi, dampaknya lebih terasa lagi. Pedagang dan pengusaha yang bergantung pada mobilitas cepat untuk distribusi barang melaporkan peningkatan waktu tempuh dan biaya operasional. Komuter yang melalui ruas ini setiap hari juga mengalami gangguan signifikan pada rutinitas mereka.

Inilah mengapa Sarmuji menekankan pentingnya mencari solusi yang lebih mengakomodasi kebutuhan publik tanpa mengorbankan standar keselamatan.

Pertemuan antara Fraksi Golkar dan Perum Jasa Tirta I menandai upaya legislatif untuk mendorong dialog konstruktif. Sarmuji menyiratkan bahwa opsi lain—seperti pembatasan jam akses, penjagaan ketat, atau perbaikan cepat—perlu digali lebih dalam sebelum mempertahankan kebijakan penutupan total yang mengganggu kehidupan sehari-hari warga dan dinamika ekonomi lokal.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda