BANDUNG — Kemarahan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan soal penebangan 10 pohon di Jalan Riau belum mencapai solusi nyata. Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung Andri Gunawan menganggap sikap Farhan hanya sekadar emosi tanpa tindakan sistematis yang bisa mengubah situasi di lapangan.
Pokok Peristiwa
“Orang senang Pak Wali marah-marah maka seharusnya (tindakan) dilakukan secara sistematis,” ujar Andri saat dihubungi, Rabu (5/8/2026).
Gunawan mengingatkan bahwa kemarahan pemimpin harus diterjemahkan menjadi penegakan hukum yang tegas. Tanpa itu, hanya akan menjadi pernyataan kosong yang tidak mengubah apa-apa bagi kota. Menurutnya, inilah yang sedang terjadi dalam kasus penebangan pohon di kawasan Jalan Riau.
Penebangan pohon tersebut, menurut analisis Andri, terjadi karena kebutuhan visual dari sebuah videotron yang dipasang pada bangunan padel dan kafe di lokasi itu. Tanaman-tanaman yang menghalangi layar elektronik itu kemudian ditebang agar videotron terlihat lebih jelas dari jarak jauh.
Konteks
“Saya memiliki kesimpulan pohon itu ditebang untuk membuat visibilitas videotron menjadi baik,” kata dia, menekankan bahwa persoalan sebenarnya bukanlah tentang lapangan padel yang tertutup, melainkan prioritas yang salah tempat.
Andri juga mencatat ada kesalahpahaman di kalangan publik tentang alasan di balik penebangan ini. Warganet kebanyakan menyalahkan pemilik lapangan padel, padahal masalah sesungguhnya terletak pada regulasi dan pengawasan terhadap pemasangan videotron di area publik yang kurang ketat.
Kasus serupa pernah terjadi sebelumnya. Di depan Graha Pos, juga di Jalan Riau, penerangan jalan umum (PJU) klasik hilang setelah videotron dipasang di wilayah tersebut. Fenomena ini menunjukkan pola yang berulang: instalasi videotron sering kali mengalahkan kepentingan publik seperti pohon penghijauan dan fasilitas penerangan.
Dampak dan Langkah Berikutnya
“Banyak kecolongan, peristiwa menghancurkan rintangan visual bukan peristiwa pertama di jalan Riau, sekarang di tempat padel supaya videotron visibilitas baik yang dikorbankan pohon. Sebelumnya sudah terjadi di Graha Pos satu PJU klasik hilang karena di sana dipasang videotron,” terang Andri.
Kritikan Andri ini mengisyaratkan bahwa masalah penebangan pohon di Bandung bukan hanya soal emosi sesaat seorang pemimpin. Lebih dari itu, ini adalah pertanyaan tentang bagaimana kota mengatur prioritas antara pengembangan komersial dan kepentingan lingkungan serta publik.
Tanpa regulasi yang jelas dan penegakan yang konsisten, setiap kemarahan yang disuarakan pemimpin akan tetap terasa hambar bagi warga yang melihat pohon-pohon terus rontok.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.