Kamis, 6 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Selat Hormuz: Rubio Sebut Ada Kemajuan, Deal Belum Final

Selat Hormuz dan kapal tanker komersial di jalur pelayaran
Pembicaraan soal Selat Hormuz kembali mencuat saat Washington menyebut ada kemajuan, tetapi kesepakatan final belum tercapai. (Ilustrasi: AI)

Houthi menyebut serangan akan diperluas di Laut Merah utara karena Saudi mengalihkan tanker minyaknya ke sana dari jalur selatan sebagai respons atas blokade mereka. Artinya, tekanan di rute pelayaran kawasan tidak datang dari satu arah saja. Dua lajur, dua ancaman.

Dampak ke pasar dan pengiriman minyak

U.S. Central Command mengatakan jalur selatan melalui Selat Hormuz tetap terbuka bagi semua kapal komersial yang ingin melintas. Komando itu juga menyebut pasukan AS telah membantu lebih dari 1.000 kapal transit dengan aman selama tiga bulan terakhir.

Namun, Washington juga mengakui ada perubahan pola lalu lintas. AS telah mengalihkan 45 kapal komersial yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran sejak blokade dimulai ulang bulan lalu. Jumlah itu naik satu kapal dibanding sehari sebelumnya. Jumlah kapal yang dibajak atau dilumpuhkan tetap dua dan tidak berubah belakangan ini.

Bagi pasar, data itu memberi sinyal sederhana: rute belum tutup total, tetapi risiko masih tinggi. Perusahaan pelayaran harus menghitung ulang jalur, biaya, dan asuransi. Sementara itu, konsumen ikut merasakan efek akhirnya bila ketegangan berlanjut terlalu lama lewat harga energi dan ongkos logistik.

Di belakang meja perundingan

Belum semua pejabat AS terdengar sejalan, tapi nada di Washington mulai mengarah ke kemungkinan kompromi. Rubio menyebut ada kemajuan, sementara sumber Iran yang mengetahui pembicaraan langsung mengatakan pembahasan telah sampai ke tahap penyesuaian teknis dan waktu pelaksanaan.

Di sisi lain, Pentagon menepis kekhawatiran soal stok senjata Amerika. Juru bicara utama Pentagon Sean Parnell mengatakan militer AS punya semua yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi pada waktu dan tempat pilihan presiden. Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth pernah menyebut laporan soal stok yang menipis sebagai cerita yang dibuat-buat.

Masalahnya, perang kata-kata ini belum selesai. Dan selama belum ada kesepakatan final, Selat Hormuz tetap jadi titik rawan yang setiap hari diawasi kapal perang, pedagang minyak, dan pemerintah di kedua sisi Teluk.

“The Strait is going to be open very soon, or they’re going to hit very hard, and then the Strait is going to be open,” kata Trump.

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda