Jumat, 7 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Rubio Perketat Kampanye Tekanan Kuba, Ekonomi Makin Terjepit

Kampanye tekanan Kuba membuat ekonomi pulau itu makin terjepit
Marco Rubio disebut mendorong kampanye tekanan Kuba yang makin keras terhadap Havana. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Marco Rubio mengerahkan kampanye tekanan Kuba yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan ia ingin pemerintah pulau itu paham bahwa situasinya tidak akan mereda. Menteri Luar Negeri AS itu mengatakan kepada Axios, “What we’re trying to teach them is, there are no escape valves,” saat Washington memperluas tekanan ekonomi terhadap Havana.

Dampaknya sudah terasa. Ekonomi Kuba disebut berada dalam kemerosotan lambat akibat sanksi AS yang keras dan salah urus oleh pemerintah komunis, sementara Presiden Donald Trump belum menutup kemungkinan aksi militer.

Serangan ekonomi dari banyak arah

Sejak tahun lalu, pemerintahan Trump mengambil dua dozen tindakan terpisah untuk menekan Kuba. Skala dan jumlah hukumannya disebut unik, mulai dari sanksi terhadap 40 entitas hingga pembatasan terhadap setidaknya 38 orang melalui sanksi ekonomi, pembatasan visa, dan pencabutan izin tinggal.

Washington juga menekan negara lain agar berhenti mendukung program ekspor dokter Kuba, yang oleh Departemen Luar Negeri AS disebut sebagai “human trafficking”. Di saat yang sama, laporan resmi AS terus menyerang Kuba atas catatan hak asasi manusia, kegagalan memerangi terorisme, dan perannya dalam menguatkan aktivitas politik anti-kapitalis dan anti-AS.

Rubio melihat semua ini sebagai upaya memutus jalan keluar Havana. “Every time they create a new mechanism in which they try to get out of the noose, we just close it off,” kata Rubio. Ia menambahkan, “They certainly can’t wait us out. Certainly this isn’t going to go away for the next 2½ years.”

Soal pasokan, Kuba makin bergantung

Tekanan itu mengubah posisi Kuba di kawasan. Pulau tersebut kini disebut sebagai semacam koloni pembangkang de facto bagi Amerika Serikat karena sangat bergantung pada AS untuk sebagian besar makanan, bahan bakar, obat, dan mata uang. Semua itu langka di dalam negeri.

Pada Selasa, perdana menteri Kuba membuat pengumuman bersejarah dengan mengatakan pemerintah akan mengizinkan lebih banyak aktivitas sektor swasta dibanding periode mana pun sejak Revolusi 1959, seperti dilaporkan Miami Herald. Rubio menilai langkah itu hanya cara untuk membeli waktu sambil mencari jalan menghindari sanksi.

“Every time they create a new mechanism in which they try to get out of the noose, we just close it off,” tegas Rubio lagi. Bagi Havana, ruang bernapas makin sempit. Bagi Washington, tekanan baru saja dimulai.

Perusahaan asing kabur, pasar gelap tumbuh

Di balik layar, perusahaan asing mulai meninggalkan Kuba karena ancaman sanksi. Perusahaan AS, terutama distributor bahan bakar, masuk saat sejumlah perusahaan negara Kuba seperti perusahaan minyak dan gas milik negara tertekan berat. Dari situ muncul pasar gelap kapitalis yang masih embrional.

Seorang pebisnis di sektor bahan bakar mengatakan sebagian bisnis Kuba bahkan mengirim “human mules” ke Miami, mengenakan rantai emas tebal untuk dipakai sebagai alat tukar karena pembatasan perbankan AS membuat transaksi dengan Havana nyaris mustahil. Cerita ini menggambarkan betapa rapuhnya jalur pembayaran formal yang tersisa.

Dalam enam bulan pertama tahun ini, ekspor bahan bakar AS ke Kuba naik menjadi $96 million, lebih dari separuhnya terjadi pada June, menurut U.S.-Cuba Trade and Economic Council.

Presiden lembaga itu, John Kavulich, mengatakan, “Trump and Rubio have initiated the most effective sanctions program against a target country than any of their predecessors,” dan menambahkan, “We’ve been around since 1994 and never seen anything like this.”

Venezuela, sumber lama yang ikut hilang

Tak ada yang dinilai lebih menyakiti Kuba daripada keputusan Trump pada Jan. 3 untuk menyita Nicolas Maduro dari Venezuela, patron pulau itu seperti halnya Hugo Chavez setelah Uni Soviet runtuh pada 1991. Venezuela sebelumnya memasok hingga 100,000 barrels of oil daily untuk Kuba.

Kini, Kuba nyaris tak mampu menjaga lampu tetap menyala. Negara itu juga kehilangan sumber pendapatan besar dari penjualan sekitar separuh minyaknya di pasar global. Rubio menyebut Kuba untuk pertama kalinya dalam sejarah kehilangan dua hal yang selama ini mereka andalkan: sponsor luar dan kurangnya perhatian AS sebagai prioritas utama.

“For the first time in Cuba’s history, Cuba lacks two things they’ve always relied on: an outside sponsor and the U.S.’s lack of attention on it as a top priority,” kata Rubio. Ia menegaskan, “They’re not going to get a sponsor in the next 2½ years, so that’s the dynamic that’s changed,” dan menambahkan, “It’s forced them into a very tough spot.”

Gugatan baru menunggu, embargo tetap berlaku

Tekanan hukum juga ikut bergerak. Sejumlah gugatan baru diajukan setelah putusan Mahkamah Agung AS yang terkait dengan undang-undang yang memungkinkan warga negara AS menggugat perusahaan swasta yang memperdagangkan properti yang disita saat Revolusi Kuba.

Undang-undang itu disebut LIBERTAD Act. Aturan ini mengokohkan embargo Kuba, dan hanya bisa dicabut jika Kuba membebaskan tahanan politik, menjamin hak-hak sipil, dan menggelar pemilu bebas. Dengan jalur ekonomi, diplomatik, dan hukum yang sama-sama menekan, Havana kini menghadapi ruang gerak yang makin sempit dari semua arah.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda